Sandiaga Uno: Kemiskinan Tinggi, Wajar Orang Papua Marah

CNN Indonesia | Kamis, 22/08/2019 15:51 WIB
Sandiaga Uno: Kemiskinan Tinggi, Wajar Orang Papua Marah Sandiaga Uno menganggap wajar masyarakat Papua marah, karena memiliki banyak sumber daya alam namun tingkat kemiskinan begitu tinggi (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mantan calon wakil presiden Sandiaga Uno menganggap wajar jika masyarakat Papua marah karena ketimpangan ekonomi yang ada tergolong memprihatinkan. Sandi menyebut tingkat kemiskinan masyarakat Papua 8 kali lipat dibanding warga Jakarta.

Padahal, lanjutnya, daerah mereka begitu kaya dengan berbagai jenis sumber daya alam.

"Padahal daerahnya sangat kaya sumber daya alamnya. Terang aja orang marah, negeri yang sangat kaya raya ini tapi tingkat kemiskinannya delapan kali lipat dari kita di sini (Jakarta)," ujar Sandi dalam diskusi grup Instruktur Nasional Partai Amanat Nasional (PAN), di Gedung Joang '45, Jakarta, Kamis (22/8).


Sandi merujuk kepada Badan Pusat Statistik (BPS). Dia mengatakan angka kemiskinan di Papua meningkat hampir 60 ribu orang sejak tahun 2014 hingga 2018. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk miskin di Jakarta yang hanya 3,5 persen, jumlah penduduk miskin di Papua mencapai 28 persen. Sementara Papua Barat hampir 23 persen.
Sandi mengamini bahwa pembangunan masif dilakukan di Bumi Cenderawasih. Akan tetapi, dia yakin itu tidak bisa menyelesaikan masalah yang utama.

"Kita lihat bagaimana Papua dibanjiri infrastruktur, begitu banyak proyek investasi, tapi belum menyelesaikan permasalahan hakiki, yaitu kemerdekaan ekonomi," ujar Sandi dalam diskusi grup Instruktur Nasional PAN, di Gedung Joang '45, Jakarta, Kamis (22/8).

Sandi menegaskan bahwa kesejahteraan masih menjadi persoalan utama di Papua. Menurutnya, perlu ada perhatian serius. Dia yakin persoalan-persoalan di Papua bisa diselesaikan.

"Jadi Papua ini butuh perhatian kita, kita ingin rangkul, kesejahteraannya dinomorsatukan, pendidikan itu akan menjadi prioritas kita. Ini yang harus kita fokuskan ke depan," ucap Sandi.
Kerusuhan terjadi di Manokwari, Papua Barat, pada Senin lalu (19/8), Gedung DPRD Papua Barat sempat dibakar massa.Foto: STR / AFP
Kerusuhan terjadi di Manokwari, Papua Barat, pada Senin lalu (19/8), Gedung DPRD Papua Barat sempat dibakar massa.
Diketahui, aksi protes terjadi di sejumlah daerah di Papua dan Papua Barat sejak Senin (19/8). Mereka tidak terima ketika mahasiswa asal Papua mendapat perlakuan kurang mengenakkan di Surabaya dan Malang, Jawa Timur pada Jumat (16/8).

Aksi turun ke jalan lalu dilakukan. Masyarakat Manokwari, Sorong, dan Jayapura melancarkan aksi protes. Sejumlah mobil dan bangunan rusak.

Gelombang aksi protes belum sepenuhnya berhenti. Masyarakat Mimika dan Fakfak masih berunjuk rasa pada Rabu (21/8).

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mengamini bahwa sejumlah aksi protes di Papua merupakan buntut peristiwa di Surabaya dan Malang, Jawa Timur. Itu diperparah oleh hoaks yang beredar di media sosial.
"Kita sudah tahu bahwa hari ini ada kejadian di Manokwari. Ada aksi anarkis dan juga ada pemukulan massa. Ini dipicu karena kejadian di Jatim khususnya di Surabaya dan Malamg. Ini tentu kita sesalkan," kata Tito, saat ditemui RS Bhayangkara, Surabaya, Senin (19/8).

Sejumlah elemen masyarakat meminta aparat menindak tegas oknum yang melontarkan pernyataan rasialis kepada mahasiswa Papua di Surabaya. Menurut mereka, itu perlu dilakukan agar tidak ada lagi kejadian serupa.

Presiden Joko Widodo sudah angkat suara. Dia meminta masyarakat Papua dan Papua Barat untuk memaafkan apa yang terjadi dan tenang kembali

"Jadi, saudara-saudaraku, Pakce Mace, mama-mama di Papua, di Papua Barat, saya tahu ada ketersinggungan. Oleh sebab itu sebagai saudara sebangsa setanah air, yang paling baik memaafkan. Emosi itu boleh tapi memaafkan itu lebih baik. Sabar itu juga lebih baik," kata Jokowi pada Senin lalu (19/8)
[Gambas:Video CNN] (psp/bmw)