Pria yang akrab disapa Kang Emil itu menyebut kalkulasi luas ibu kota pengganti DKI Jakarta yang dirancang pemerintah pusat sekitar 180 hektare terlalu luas. Menurutnya, sebuah ibu kota jangan dibangun di lahan yang terlalu luas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, ia mengaku belum melihat desain ibu kota dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Kang Emil berkata di masa mendatang kota futuristik adalah kota yang mengutamakan agar warganya bisa melakukan aktivitas sehari-hari dengan berjalan kaki. Oleh karena itu, lanjutnya, wilayah perkantoran, perumahan, sekolah, hingga pertokoan dibangun saling berdekatan.
Mantan wali kota Bandung itu menyatakan Washington DC dibangun dengan konsep seperti itu. Kang Emil menyebut setelah jam perkantoran selesai di Washington DC, masyarakat masih bisa melanjutkan aktivitas di malam hari.
"Jangan sampai kejadian dengan ibu kota baru lain, malam hari sepi. Karena apa? Tidak ada tempat retail, orang juga rumahnya jauh-jauh," tuturnya.
"Jangan mendesain ibu kota baru yang mayoritas untuk mobil, untuk bangunan, tapi kemanusiaan, humanistiknya tidak maksimal," ujarnya.
Kang Emil mengatakan bahwa Jokowi sangat senang mendapatkan masukan soal rancangan pembangunan ibu kota baru. Menurut Kang Emil, dirinya menyampaikan usul ini dalam kapasitasnya sebagai masyarakat yang ingin pembangunan ibu kota baru ini berjalan sukses.
"Jangan sampai kita sibuk dengan cara seperti itu, 50 tahun setelahnya mangkrak. Saya mengingatkan saja agar kita merencana jauh lebih matang dan lebih baik. Masukan dari masyarakat juga diterima," ujarnya.
[Gambas:Video CNN] (fra/wis)