"Kalau kami bisa membangun ibu kota, tapi nanti sebagian masyarakat kami tersisihkan. Ini jadi problem besar buat kami," kata Kepala Bagian Pembangunan Pemkab Penajam Paser Utara Nico Herlambang, di Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Kamis (29/8) dikutip dari Antara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau infrastruktur bagus, air bagus, bertetangga sama presiden, kami siap 100 persen. Cuma, Presiden siap tidak bertetangga dengan kami yang petani? Masyarakat kami ini jangan sampai tersingkirkan," kata Nico.
"Jangan sampai nanti kotanya dipindah, pangannya yang nyiapin dari luar wilayah kami. Bisa saja dari luar wilayah kami, tapi penduduk kami jadi prioritas," kata Nico.
Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerjasama Fakultas Geografi UGM, Dyah Rahmawati Hizbaron, mengatakan kajian akademik untuk pembangunan calon ibu kota baru di Penajam Paser Utara disiapkan secara multidisipliner.
"Mengingat kabupaten ini memiliki livelihood (penghidupan masyarakat) yang tidak bisa didatangi modernitas, barangkali perlu penyelarasan dari kajian humanisme bagaimana pola perubahan itu akan diterapkan," kata Dyah.
(arh)