VIDEO: Menelusuri Jejak Tumpahan Minyak di Karawang

Tim CNN Indonesia, CNN Indonesia | Senin, 02/09/2019 09:46 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Satu setengah bulan setelah kebocoran minyak di blok Offshore North West Java, dampak kerusakan masih terlihat jelas di pantai-pantai desa pesisir Karawang.

Di Cemara Jaya pasir pantai bercampur dengan gumpalan-gumpalan minyak mentah, tak aman dikunjungi tanpa boots dan masker.

Baunya pun bisa menyesakkan dada hingga batuk karena iritasi saluran pernapasan.

Minyak juga mencemari ribuan pohon mangrove dan ribuan hektar tambak.

serta 62,35 hektare muara sungai yang mengancam habitat kepiting dan siput pantai, serta rantai makanan burung.

Pendapatan nelayan merosot hingga separuhnya, karena ikan-ikan tercemar, mati mengambang, atau berbau minyak yang sangat kuat sehingga sukar dijual di pelelangan ikan.

Nelayan kini beralih profesi jadi pengambil limbah.

Pukul 05.30 WIB mereka melaut ke area perairan yang berjarak 1 KM dari daratan .

Menggunakan peralatan sederhana seperti jaring yang terpasang pada tongkat bambu serta karung putih.

Selain mengalami kesukaran karena limbah tersebar luas, metode ini pun berisiko bagi kesehatan kulit.

Setiap harinya satu perahu harus mendapatkan 80 karung limbah yang bobot tiap karung mencapai 15-20 KG.

Setiap nelayan rata-rata mendapatkan upah bersih Rp200 ribu untuk mengerjakan itu.

Sebagian nelayan lainnya menjadi 'ojek limbah' mengangkut karung-karung minyak dari pantai ke pusat pengumpulan limbah.