Ikan-ikan Hitam dan Bocor Minyak Pertamina

Tim | CNN Indonesia
Senin, 02 Sep 2019 08:41 WIB
Kebocoran minyak dari sumur Pertamina bukan hanya membuat ikan mati, tapi juga mengotori ribuan pohon mangrove, tambak udang, dan ekosistem pantai. Pemerintah Kabupaten Karawang menutup sementara tempat wisata pantai di Karawang untuk mencegah kesehatan warga terdampak air laut yang tercemar tumpahan minyak. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Karawang, CNN Indonesia -- Tarono (49) hanya bisa pasrah menatap tujuh ekor ikan yang terjerat di jaring-jaringnya pada Rabu pagi di akhir Agustus itu. Tangkapannya bukan hanya sedikit, tapi juga berbau minyak yang amat pekat.

Satu kilometer dari pantai Pusaka Jaya Utara, Karawang, kapal kami berpapasan. CNNIndonesia.com sedang 'melaut' bersama para pengambil limbah, Tarono mencari ikan.

Air laut di sekitar kapal kami terlihat kotor dan mengeluarkan bau yang cukup membuat pusing. Kumpulan minyak mentah seperti kerikil-kerikil besar berwarna coklat jika terkena matahari, tersebar di sekeliling kami. Airnya pun terlihat berminyak.


Tarono adalah satu dari segelintir nelayan Desa Pusaka Jaya Utara, Karawang, Jawa Barat, yang masih berkukuh menangkap ikan dan udang. Rekan-rekannya yang lain telah beralih menjadi pengambil limbah minyak demi tetap bertahan hidup.

Sejak 12 Juli lalu, ketika sumur YYA-1 di blok Offshore North West Java (ONWJ) milik Pertamina Hulu Energi bocor dan memuntahkan ribuan liter minyak mentah, para nelayan memang kehilangan mata pencaharian. Ikan dan udang yang biasa menjadi sumber kehidupan mereka mati tercemar.

Tarono masih berharap ada ikan tersisa di area tercemar yang bisa dijual. Setiap harinya ia akan pergi pukul 05.30 WIB atau 06.00 WIB untuk mencari ikan saat ombak laut masih tenang. Hanya saja jumlahnya memang tak banyak. Tujuh ekor ikan tangkapannya didapat dari melaut selama dua jam.

"Pada mati ikannya," ujar Tarono. "Ada ikan, ada kepiting, sotong. Bau minyak."
Tulisan 1 - Kebocoran Minyak KarawangSejak sumur YYA-1 milik Pertamina Hulu Energi bocor pada 12 Juli lalu, nelayan Karawang beralih profesi menjadi pengambil limbah. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Saat kapal kami mendekat, Tarono sempat menunjukkan jaring-jaring ikannya yang terlihat licin karena limbah. Ia mengaku jaring-jaring udangnya juga kosong tak mampu menghasilkan tangkapan.
Ia masih menyimpan keyakinan ikannya masih bisa dijual pelelangan, tapi dengan harga separuh dari normal.

"Biasanya kalau lagi mahal, ikan yang kayak begini bisa Rp26 ribu. Sekarang cuma laku Rp14 ribu paling. Separuh harga," tutur Tarono.

Menurut Cargu (55), seorang pedagang di tempat pelelangan ikan Desa Sungai Buntu, sejumlah hewan laut terkadang masih dijual meski sudah mati.

"Kadang-kadang [masih] dijual, kadang-kadang enggak, dibuang karena bau." kata Cargu.

Setelah insiden tumpahan minyak terjadi, Cargu merasa kini pendapatannya berkurang hingga lebih dari 50 persen. Tidak ada lagi pembeli yang mau datang membeli ikan nelayan Karawang. Kalau pun ada, sangat sedikit.

Hingga tengah hari, dagangan Cargu belum juga habis.

"Dulu mah masih sekitar Rp300 ribu penghasilan. Bersih. Sekarang mah paling Rp150 ribu, Rp100 ribu," ungkapnya.
Tulisan 1 - Kebocoran Minyak KarawangAir di pesisir Karawang terlihat licin karena tumpahan minyak dan mengeluarkan bau menyengat. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Ekosistem Pantai Kena Getah

Gelombang bocoran minyak bukan sekadar mengotori laut, atau membuat nelayan kehilangan penghasilan. Muara sungai, terumbu karang, habitat kepiting dan udang, pohon mangrove, serta ribuan hektare tambak juga kena getah.

Pencemaran ini terlihat jelas ketika CNNIndonesia.com menyusuri pantai-pantai di Karawang pada 20-21 Agustus lalu.

Misalnya saja Desa Cemara Jaya yang jadi salah satu wilayah paling terdampak. Pantai di desa itu terlihat kotor dengan pasir yang bercampur dengan gumpalan-gumpalan minyak mentah berwarna abu-abu pekat.

Gelombang air laut yang terus-menerus mengirimkan gumpalan minyak juga seolah membuat pekerjaan membersihkan pantai tak ada habisnya. Padahal pekerja pengambil limbah terus membersihkan setiap harinya mulai dari pukul 08.00 WIB hingga 16.00 WIB. Padahal, pantai juga dipasangi jaring guna menangkap limbah yang terseret air laut.

Hal yang sama juga terjadi di sepanjang pantai Sedari.

Alhasil, pantai tidak bisa dikunjungi jika tidak menggunakan pengaman seperti sepatu boots dan masker. Gumpalan-gumpalan minyak itu berbahaya jika terkena kulit dan baunya bisa menyesakkan dada hingga membuat batuk-batuk karena iritasi saluran pernafasan.
Tulisan 1 - Kebocoran Minyak KarawangBukan hanya mengotori laut, tumpahan minyak juga mencemari pohon mangrove serta berbagai ekosistem pesisir. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Barat Meiki W Paendong mengatakan pencemaran itu juga bisa membahayakan ekosistem di pantai. Contohnya adalah habitat kepiting dan siput pantai. Ia menyebut gumpalan minyak bisa menutup lubang tempat mereka bersarang sehingga menyebabkan kematian.

"Dampaknya akan mengganggu ke rantai makanan burung yang biasa mengkonsumsi keipiting dan siput," kata Meiki kepada CNNIndonesia.com saat dihubungi, Kamis (22/8).

Dalam catatan Walhi, bukan hanya kepiting dan siput pantai saja yang terancam keberadaannya karena tumpahan minyak. Ada 7.713 pohon mangrove di sepanjang pantai Sedari yang ikut tercemar.

Kebocoran sumur Pertamina sendiri membuat delapan pantai di Karawang ditutup sejak pertengahan Juli lalu. Meski sama-sama tercemar, kondisinya berbeda-beda. Pantai di sepanjang desa Sungai Buntu hingga Sedari terpantau paling terdampak karena gumpalan minyak. Hal ini karena angin dari Timur ke Barat kerap menyapu limbah dari sumber kebocoran ke dua pantai tersebut.

Sementara itu, pasir pantai Pusakajaya Utara tidak terlalu kotor, tapi dengan kondisi perairan yang lebih parah.

"Yang kami khawatirkan bisa kemungkinan arah angin berubah, dalam arti tidak ke arah barat tapi ke timur. Kalau ke arah timur dia bisa ke arah Subang, Indramayu, bahkan Cirebon, bahkan tidak menutup kemungkinan kalau penanganan tidak efektif itu bisa sampai ke perairan Jawa Tengah," kata Meiki.
Tulisan 1 - Kebocoran Minyak KarawangSuasana TPI Sungai Buntu yang mengalami penurunan omset akibat berkurangnya tangkapan nelayan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Di perairan desa Pusakajaya Utara, sekitar satu kilometer dari daratan, gumpalan-gumpalan minyak yang menyebar di seluruh permukaan air bisa terlihat jelas.

Gumpalan itu berwarna cokelat jika terkena sinar matahari. Permukaan air laut pun terlihat sangat berminyak dan mengeluarkan bau menyengat.

Limbah itu mengakibatkan banyak hewan laut. Ketika CNNIndonesia.com ikut 'melaut' bersama para pengumpul limbah, kami menemukan ikan-ikan mati mengambang di permukaan perairan Karawang. Ikan itu beraroma minyak yang sangat kuat.

Meiki mengatakan, ada habitat gugusan terumbu karang yang juga terancam jika gumpalan minyak terlalu lama mengendap. Hal ini karena kelangsungan hidup terumbu karang bergantung pada kualitas air laut.

"Ada gugusan karang Sendulang. Kalau di antara anjungan yang bocor dengan bibir pantai itu ada di tengahnya. Dan ada karang Pulau Gede," kata Meiki.

Kepala Desa Sungai Buntu Asep Saepul Rahman juga menyatakan pihaknya mendapatkan laporan terkait tercemarnya tambak udang.

"Ada itu, udang-udang pada mati. Sudah pasti itu karena limbah," kata Asep di kantornya, Selasa (20/8).

Meiki juga membenarkan pencemaran terjadi pada 1.630 hektare area tambak di sejumlah desa seperti tambak ikan dan udang di Desa Tambak Sari, Desa Tambak Sumur, Desa Seari, Desa Cemara Jaya, Desa Sungai Buntu, Desa Pusaka, Desa Ciparage, dan Desa Tanjung Pakis.

"Berakibat pada kematian ikan dan udang. Sama, kondisi tanah tambak ikan juga tercemar," kata Meiki.

Meiki juga mencatat ada 62,35 hektare muara sungai yang tercemar limbah minyak per 20 Agustus 2019.

Pencemaran itu juga dapat mengancam sarang dan kehidupan kepiting di sungai-sungai tersebut. Akibatnya rantai makanan juga bisa terganggu.

"Ada 62,35 hektare muara sungai yang terpapar oil spill, kami sample di 15 muara," ucapnya.
Tulisan 1 - Kebocoran Minyak KarawangBukan hanya air laut, muara sungai dan ekosistem pesisir pun tercemar oleh tumpahan minyak. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Pertamina sendiri menargetkan penanganan tumpahan minyak akan selesai pada pertengahan Oktober mendatang.

Salah satu yang membuat penanganan ini memakan waktu lama - nyaris tiga bulan-adalah kesulitan untuk menutup sumber kebocoran.

Cara yang diambil Pertamina adalah melalui pengeboran miring sumur terarah (relief well) yang berfungsi menutup sumur yang bocor. Metode ini dianggap sebagai solusi yang terbaik setelah upaya pengendalian kebocoran dari sumur eksisting gagal dilakukan.

"Sumur eksisting yang sedang bermasalah ini (YYA-1) akan dimatikan dengan cara membuat lubang baru dari jarak aman untuk sampai ke titik yang akan di-intercept (sumbat)," ujar Vice President Relations PHE Ifky Sukarya.

Selain mengatasi kebocoran, Pertamina juga menyatakan akan memberikan ganti rugi kepada warga terdampak yang nantinya akan diverifikasi.

Ifki menyatakan Pertamina masih fokus pada upaya penanganan kebocoran dan warga yang terdampak sehingga belum bisa menyebutkan total kerugian akibat insiden tumpahan minyak tersebut.

"Kami masih fokus pada upaya penanggulangan dan upaya mematikan sumur (YYA-1)," tuturnya. (ani/vws)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER