Hutan Lindung Terbakar, Polisi Tangkap Warga Flores Timur

CNN Indonesia | Senin, 02/09/2019 09:35 WIB
Hutan Lindung Terbakar, Polisi Tangkap Warga Flores Timur Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) (CNN Indonesia/Hafidz)
Jakarta, CNN Indonesia -- Polres Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) menangkap seorang warga berinisal DW terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lereng Gunung Lewotobi, Kecamatan Ilebura, Flores Timur. DW diduga ingin membuka lahan dengan cara membakar, namun api turut melalap wilayah hutan lindung.

"Tersangka DW saat ini kami amankan di Polsek Wulanggitang karena melakukan pembakaran lahan yang mengakibatkan kebakaran hutan di lereng Gunung Lewotobi," ucap Kapolres Flores Timur Ajun Komisaris Besar Deni Abrahams seperti dilansir dari Antara, Senin (2/9).

Deni mengatakan peristiwa bermula ketika DW ingin membuka lahan di hutan tutupan dengan melakukan pembakaran. DW, yang merupakan warga Desa Klantanlo, Kecamatan Wulanggitang itu membakar hutan sekitar pukul 11.00 WITA Jumat lalu (30/8).


Deni mengatakan api yang disulut oleh DW begitu cepat melalap hutan karena angin kencang dan cuaca panas. Kobaran api kemudian meluas hingga wilayah hutan lindung di sekutar Gunung Lewotobi.
"Sumber apinya diketahui dari pembakaran lahan yang dilakukan saudara DW ini dan sulit dipadamkan karena angin kencang membuat api cepat merambat," tutur Deni.

Petugas Kepolisian yang bertugas di Kecamatan Ilebura lantas bergerak untuk melakukan pemadaman. Namun, mereka mengalami kesulitan akibat lokasi karhutla yang sulit dijangkau, yakni berada di bawah kaki Gunung Lewotobi.

"Sampai Minggu malam(1/9), api belum berhasil dipadamkan dan belum diketahui luas lahan hutan yang sudah terbakar," ucap Deni.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih belum berhenti terjadi di sejumlah wilayah. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLH) mencatat karhutla telah melalap 135.747 hektare sejak Januari-Juli 2019. Dari luas tersebut, 31.002 hektare di antaranya adalah lahan gambut, dan 104.746 hektare lahan mineral.
Menkopolhukam Wiranto mengatakan karhutla berpotensi titik api lebih banyak dibandin 2018 lalu. Karenanya perlu ada kekompakkan dari seluruh elemen dalam mengatasi karhutla di berbagai daerah.

Wiranto menyebut 99 persen penyebab karhutla disebabkan oleh ulah manusia. Sementara satu persen akibat faktor alam.

Berdasarkan temuan itu, ia meminta semua pihak lebih fokus menindak manusia yang menyebabkan karhutla.

"Terakhir kesimpulan kita apa yang harus segera kita lakukan agar penanggulangan karhutla ini efektif, artinya goa-lnya maka pada saat kemarau panjang itu titik api mudah-mudahan nol, tapi ya tidak mungkin," ujar Wiranto di Kantor Kemenkopolhukam, Jakarta, Rabu (21/8). 
[Gambas:Video CNN] (Antara/bmw)