Cegah Tawuran di Manggarai, Jembatan Jayakarta Ditutup

CNN Indonesia | Kamis, 05/09/2019 18:00 WIB
Cegah Tawuran di Manggarai, Jembatan Jayakarta Ditutup Ilustrasi tawuran. (ANTARA FOTO/Rony Muharrman).
Jakarta, CNN Indonesia -- Warga menutup jembatan penyeberangan orang (JPO) Jayakarta untuk mencegah tawuran. Penutupan ini dilakukan kurang dari 24 jam sejak tawuran antarwarga dari Menteng Tenggulun, Jakarta Pusat, dengan Manggarai Selatan, Jakarta Selatan pecah, Rabu (4/9) sore.

Jembatan sepanjang 40 meter membentang di atas Kali Ciliwung itu menghubungkan kawasan Menteng Tenggulun dengan Jalan Sultan Agung, Manggarai.

Pintu pagar yang ada di dua sisi wilayah itu ditutup dan diikat dengan kawat sehingga warga tidak bisa melintas.


JPO yang dibangun oleh Pemprov DKI Jakarta ini biasanya dibuka setiap hari dan baru ditutup sekitar pukul 23.00 WIB. Sejak dibangun JPO Jayakarta jadi alternatif warga untuk melintas dan beraktivitas jalan kaki.

"Imbas kemarin, jadi pagar ditutup sama warga, diikat pakai kawat, cegah supaya enggak ada yang coba-coba masuk," kata petugas Pospol Subsektor Pasar Rumput, Aiptu Dhani saat ditemui, dikutip dari Antara.
Akibat penutupan jembatan ini warga terpaksa menggunakan akses jalan lain yang berada cukup jauh. Tak jarang ada juga warga yang nekat melintas dengan cara memanjat pagar dan pintu JPO yang berwarna putih tersebut.

"Pak itu jembatannya ditutup, tapi saya boleh lewat ya pak, kejauhan kalau lewat jalan lain," kata salah satu pelajar saat minta izin ke petugas di Pospol Subsektor Pasar Rumput.

Petugas tidak menyarankan mereka menggunakan JPO yang sedang ditutup tersebut, tetapi jika ingin melintas dengan hati-hati dipersilahkan.

Tawuran di kawasan Manggarai pecah, Rabu (4/9) sore, melibatkan tiga kelompok warga yakni warga Tambak, Jakarta Pusat dan warga Magazen, Tebet, terlibat bentrok dengan warga Menteng Tenggulun, Jakarta Pusat.

Polisi mendeteksi penyebab tawuran kerap terjadi di Manggarai dipicu saling ejek di media sosial. Tawuran antarwarga tersebut kerap terjadi berulang, hingga tak jarang mengganggu perjalanan kereta commuter line.

"Turun temurun, masalahnya sepele aja ejek-ejekan di medsos, tantang-tantangan di medsos, ya begitu aja modelnya dari dulu," ujar Kapolsek Tebet Kompol Alam Nur saat dikonfirmasi, Kamis (5/9).
Menurut Alam, mulanya saling ejek dan aksi tawuran itu hanya terjadi di kalangan pelajar. Namun, lama-kelamaan warga sekitar juga mulai ikut serta dalam aksi tawuran itu.

"Seperti kemarin itu kan dari Menteng Tenggulun ngelempar ke Manggarai, bereaksilah orang-orang Manggarai," ujarnya.

Wajah-Wajah Baru

Sementara itu, Ketua RW 05 Manggarai, Isnu Dwi Hartanto mengatakan, para pelaku tawuran kemarin didominasi wajah-wajah baru.

"Sekitar 60 hingga 70 persen pelaku yang terlibat tawuran kemarin adalah wajah baru. Saya tidak kenal," kata Isnu.

Pria yang sudah menjabat Ketua RW empat periode itu mengaku sangat mengenali wajah warganya yang kerap terlibat tawuran.

Mereka didominasi remaja usia pelajar dan mahasiswa. Namun tidak jarang kalangan orang tua turut terlibat aksi tersebut.

"Ada juga orang tua yang ikut-ikutan. Tapi niatan mereka hanya ingin melindungi rumahnya supaya tidak dirusak massa," katanya pula.
Isnu mengatakan tidak kurang dari 50 warga di RW 05, RW 06 dan RW 12 melibatkan diri dalam tawuran yang berlangsung di dua lokasi, yakni jembatan rel kereta Jalan Tambak dan JPO Jayakarta, Pasar Rumput.

"Massanya cenderung imbang. Masing-masing 50-an orang menggunakan senjata suar, dorlop, dan batu," katanya lagi.

Insiden yang terjadi sekitar pukul 17.00 WIB sempat diantisipasi warga sekitar dengan menjalin koordinasi bersama unsur musyawarah pimpinan kecamatan (muspika) hingga tokoh remaja yang 'dituakan' di Manggarai.

"Ada salah satu tokoh remaja yang dituakan di sini kita coba beri pemahaman. Tapi tawuran keburu terjadi," katanya pula.

Isnu mengatakan tawuran di Manggarai rutin terjadi rata-rata dua hingga lima kali setiap bulan. Namun pemicu kejadian pastinya belum diketahui.

"Harapan saya, polisi bisa segera menyelesaikan masalah ini. Jangan dibiarkan terjadi terus menerus, sebab saya dan warga juga ikut khawatir," katanya.

[Gambas:Video CNN] (ANTARA/osc)