Jembatan sepanjang 40 meter membentang di atas Kali Ciliwung itu menghubungkan kawasan Menteng Tenggulun dengan Jalan Sultan Agung, Manggarai.
Pintu pagar yang ada di dua sisi wilayah itu ditutup dan diikat dengan kawat sehingga warga tidak bisa melintas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Imbas kemarin, jadi pagar ditutup sama warga, diikat pakai kawat, cegah supaya enggak ada yang coba-coba masuk," kata petugas Pospol Subsektor Pasar Rumput, Aiptu Dhani saat ditemui, dikutip dari Antara.
Petugas tidak menyarankan mereka menggunakan JPO yang sedang ditutup tersebut, tetapi jika ingin melintas dengan hati-hati dipersilahkan.
Tawuran di kawasan Manggarai pecah, Rabu (4/9) sore, melibatkan tiga kelompok warga yakni warga Tambak, Jakarta Pusat dan warga Magazen, Tebet, terlibat bentrok dengan warga Menteng Tenggulun, Jakarta Pusat.
Polisi mendeteksi penyebab tawuran kerap terjadi di Manggarai dipicu saling ejek di media sosial. Tawuran antarwarga tersebut kerap terjadi berulang, hingga tak jarang mengganggu perjalanan kereta commuter line.
"Turun temurun, masalahnya sepele aja ejek-ejekan di medsos, tantang-tantangan di medsos, ya begitu aja modelnya dari dulu," ujar Kapolsek Tebet Kompol Alam Nur saat dikonfirmasi, Kamis (5/9).
"Seperti kemarin itu kan dari Menteng Tenggulun ngelempar ke Manggarai, bereaksilah orang-orang Manggarai," ujarnya.
Wajah-Wajah Baru
Sementara itu, Ketua RW 05 Manggarai, Isnu Dwi Hartanto mengatakan, para pelaku tawuran kemarin didominasi wajah-wajah baru.
"Sekitar 60 hingga 70 persen pelaku yang terlibat tawuran kemarin adalah wajah baru. Saya tidak kenal," kata Isnu.
Pria yang sudah menjabat Ketua RW empat periode itu mengaku sangat mengenali wajah warganya yang kerap terlibat tawuran.
Mereka didominasi remaja usia pelajar dan mahasiswa. Namun tidak jarang kalangan orang tua turut terlibat aksi tersebut.
"Ada juga orang tua yang ikut-ikutan. Tapi niatan mereka hanya ingin melindungi rumahnya supaya tidak dirusak massa," katanya pula.
"Massanya cenderung imbang. Masing-masing 50-an orang menggunakan senjata suar, dorlop, dan batu," katanya lagi.
Insiden yang terjadi sekitar pukul 17.00 WIB sempat diantisipasi warga sekitar dengan menjalin koordinasi bersama unsur musyawarah pimpinan kecamatan (muspika) hingga tokoh remaja yang 'dituakan' di Manggarai.
"Ada salah satu tokoh remaja yang dituakan di sini kita coba beri pemahaman. Tapi tawuran keburu terjadi," katanya pula.
Isnu mengatakan tawuran di Manggarai rutin terjadi rata-rata dua hingga lima kali setiap bulan. Namun pemicu kejadian pastinya belum diketahui.
"Harapan saya, polisi bisa segera menyelesaikan masalah ini. Jangan dibiarkan terjadi terus menerus, sebab saya dan warga juga ikut khawatir," katanya.
[Gambas:Video CNN] (antara/osc)