Jumlah pengunjung Gultik di kawasan dengan cahaya temaram itu tak seramai biasanya. Dalam kurun dua jam, terhitung hanya lima orang yang mampir ke lapaknya. Tiga orang datang menggunakan mobil, dua lainnya datang dengan berjalan kaki.
Melalui satu sahutan, seorang pelanggan dari dalam mobil memesan seporsi Gultik kepada Agus, salah satu pedagang. Tak sampai dua menit, hidangan sederhana itu sudah tiba di tangan pelanggan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kadang yang bikin tidak happy ya seperti ini, ketika hujan jadi sepi begini," ucap Agus dengan senyum terkembang saat ditemui di lokasi.
Para pelanggan datang menyantap Gultik meski malam telah larut. (CNN Indonesia/Gloria Safira Taylor) |
Cukup merogoh Rp10.000 per porsi, siapa pun dapat menikmati gultik. Penikmatnya datang dari beragam latar belakang; pemuda yang kelaparan usai ajojing di lantai dansa, pelajar, pegawai kantoran, hingga rombongan intelijen kepolisian.
Pedagang gultik lainnya, Gareng (42), bernasib sedikit lebih baik pada malam itu. Satu keluarga besar sempat mampir ke tempatnya. Ia pun sedikit lebih sibuk dari kawannya itu.
"Yah namanya jualan kan hasilnya tidak menentu, sama seperti ada siang dan malam, jadi selalu ada risikonya," ucap pria asal Sukoharjo tersebut.
Saat keadaan sepi, Gareng dan Asep mengaku bisa menjual 50 porsi dengan omzet Rp500 ribu per hari. Dengan omzet sebesar itu, upah yang mereka dapat ialah Rp50 ribu-Rp100 ribu.
Satu porsi Gule Tikungan atau Gultik di Blok M. (CNN Indonesia/Bintoro Agung Sugiharto) |
"Kita biasa stand by sampai jam 4 atau jam 5 pagi, tapi kalau ramai begitu kita pulang lebih cepat karena dagangan ludes," ujar Agus, semringah.
Rata-rata, Agus menyebut pendapatannya sebagai pedagang bisa mencapai Rp3 juta - Rp4 juta dalam sebulan. Kalau ramai, ia bahkan bisa menerima Rp5 juta.
Tahan Lama
Gareng berpendapat Gultik dapat bertahan lama bukan karena cita rasanya saja. Ia menilai eksistensi mereka dibantu oleh komunitasnya yang kompak. Salah satu wujud kekompakannya adalah koordinasi dalam menghindari kejaran razia Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).
Kawasan Blok M di siang hari. (Safir Makki) |
"Susah deh kalau ada yang mau mengusik di sini. Ada orang Malang, Surabaya, Palu, Manado, dan banyak lagi yang saling bantu dan jaga kita di sini," ujar Gareng.
Selain itu, ada kekompakan dalam praktik bisnis. Para pedagang, katanya, tak saling sikut, misalnya, dalam penentuan harga. Jika ada kenaikan harga pangan, mereka akan berembuk menentukan harga baru. Alhasil, tak akan ada satu lapak yang harganya miring sendiri dari yang lain.
Hanya saja, para pedagang diakui tak bisa berbuat banyak jika terjadi tawuran pelajar. Tawuran, terutama antara SMAN 6 dan SMAN 70 yang jaraknya berdekatan di kawasan Bulungan, Blok M, diketahui sudah kerap kali terjadi.
Agus mengaku pernah menyaksikan sendiri seorang pelajar ditebas dengan benda tajam. Saat itu, siswa SMAN 6 sedang diserang oleh pelajar sekolah lain. Seorang siswa yang mencoba berlindung dengan berpura-pura makan di salah satu tenda Gultik terkena sabetan di tangan.
Ilustrasi pelajar yang terjaring razia tawuran. (ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman) |
Jika tawuran terjadi, Agus dan koleganya tak bisa berbuat banyak. Piring pecah hingga pelanggan kabur harus mereka relakan. Namun, lagi-lagi Agus dan Gareng menyebut bahwa itu adalah bagian dari risiko berdagang di kawasan itu.
(arh/dea)
Para pelanggan datang menyantap Gultik meski malam telah larut. (
Satu porsi Gule Tikungan atau Gultik di Blok M. (
Kawasan Blok M di siang hari. (
Ilustrasi pelajar yang terjaring razia tawuran. (