Pakar Sebut Sumber Air Jadi Masalah Ibu Kota Baru

CNN Indonesia | Selasa, 10/09/2019 09:13 WIB
Pakar Sebut Sumber Air Jadi Masalah Ibu Kota Baru Ilustrasi sumber air. (AFP PHOTO/NOORULLAH SHIRZADA)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sumber air disebut jadi masalah utama pemindahan ibu kota dari Jakarta ke Kabupaten Penajem Paser Utara dan Kabupaten Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur.

"Kalau nanti [kawasan di Kalimantan Timur] jadi ibu kota, saya concern-nya ke air. Dari mana sumber airnya?," tutur Pengamat Tata Kota dari Institut Teknologi Kalimantan Farid Nurrahman, di Kantor Yayasan Madani Berkelanjutan, Jakarta, Senin (9/9).

Kekhawatiran ini dikatakan karena berkaca dari kota tetangga, yakni Balikpapan. Menurutnya, pusat bisnis di Kaltim itu masih menggunakan air hujan yang ditampung dan direvilitasi sebagai sumber air bersihnya. Selain itu, ada beberapa titik sumber air untuk disuling kembali sembari membangun waduk-waduk baru.


"Sampai sekarang dengan cara-cara seperti itu pun masih belum maksimal. Di ibu kota baru ini belum ada kajian mendalam mengenai nanti sumber airnya berada dari kawasan mana saja," jelasnya.

Farid menyatakan ada sejumlah titik sumber air yang bisa digunakan ibu kota baru nantinya. Pertama, Sungai Mahakam yang bermuara di Selat Makassar.

Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)
"Sebenarnya ada beberapa titik, ya termasuk Sungai Mahakam walaupun jaraknya cukup jauh. Cuma itu bisa menjadi salah satu sumber potensial," tutur Farid.

Kedua, hutan lindung di dekat ibu kota baru, yang sudah jadi sumber air bagi Balikpapan. Ketiga, penampungan air hujan atau penyulingan air asin juga bisa jadi salah satu alternatif.

Ia menyarankan setiap gedung yang dibangun di ibu kota baru nanti dilengkapi dengan teknologi penampung air hujan.

Bencana Banjir

Selain itu dosen kelahiran Kalimantan Timur itu juga mengingatkan bencana banjir yang sering menjadi permasalahan di Kaltim. Ia mengenang kejadian banjir setinggi dada yang memadamkan listrik selama seminggu penuh.

"Ada buaya lewat depan rumah itu biasa, mati lampu satu minggu kemarin baru terjadi," cerita Farid.

Pada kesempatan yang sama, Juru Bicara DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Bidang Lingkungan Hidup dan Perkotaan Mikail Gorbachev tak akan terjadi ketika ibu kota sudah dipindahkan.

Pakar Sebut Sumber Air Jadi Masalah Ibu Kota BaruFoto: CNN Indonesia/Anggit Gita Parikesit
Ia mengibaratkan Kaltim saat ini sebagai halaman belakang negara. Ketika ibu kota pindah ke sana, lokasi ibu kota negara akan menjadi halaman depan yang tentunya akan diperhatikan oleh pemerintah.

"Masalah-masalah nantinya akan dipelototi oleh pemerintah, karena sudah jadi halaman depan," tutur Mikail.

Berdasarkan reportase CNN Indonesia TV, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kaltim, memiliki air tanah berwarna kecoklatan, yang semakin sedikit jumlahnya dan keruh saat kemarau. Air itupun memiliki rasa payau dan agak berbau.

Warga menyebut air tanah itu hahya digunakan untuk mandi dan mencuci. Sementara, air minum didapat dari membeli air isi ulang.

Camat Sepaku, Penajam paser Utara, Risman Abdul menyebut tak ada masalah air bersih di lokasi calon ibu kota baru itu. Pasalnya, sudah ada rencana pembangunan bendungan skala nasional yang cukup besar.

"Persoalan air bersih enggak ada masalah. Untuk saat ini kita pakai air sungai, memang layak kok airnya, enggak ada masalah airnya," aku dia, kepada CNN Indonesia TV.

[Gambas:Video CNN] (fey/arh)