Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menemukan beberapa indikasi BRG jadi lembaga korup yang tidak memberi sumbangsih pada penanganan kebakaran hutan dan lahan.
"Pemerintah harusnya bisa melihat modus karhutla yang terjadi, ada pola kebakaran yang terjadi bergilir dalam kawasan konsesi. Pada sisi lain, ada praktik korup dalam proses restorasi, BRG dan TRGD (Tim Restorasi Gambut Daerah) harus dievaluasi di semua wilayah," kata Direktur Eksekutif Daerah Walhi Kalimantan Tengah Dimas Novian dalam keterangan tertulis, Rabu (11/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasil kinerja BRG sejak dibentuk pada 2015 lalu juga dipertanyakan Walhi. Melalui pengolahan data satelit, Walhi mencatat ada peningkatan titik panas di beberapa daerah.
Dalam catatan mereka, ada 13.137 titik panas pada kurun waktu 1 Januari - 7 September 2019.
Dari jumlah itu, 8.606 titik panas berada pada kawasan kesatuan hidrologis gambut (KHG), sedangkan 4.592 titik pada kawasan konsesi (izin kehutanan dan perkebunan).
"Lemahnya pengawasan upaya restorasi ekosistem gambut, khususnya pada kawasan konsesi mengakibatkan penanganan karhutla tidak mengalami kemajuan. Bahkan semakin memburuk jika mempertimbangkan peningkatan data hotspot saat ini," ucap Direktur Eksekutif Walhi Nurhidayati dalam rilis tersebut.
[Gambas:Video CNN] (dhf/eks)