Kecelakaan Maut Cipularang, Proses Uji KIR Dipertanyakan

CNN Indonesia | Jumat, 13/09/2019 05:05 WIB
Kecelakaan Maut Cipularang, Proses Uji KIR Dipertanyakan Petugas mengevakuasi salah satu kendaraan yang terlibat pada kecelakaan beruntun di Tol Cipularang KM 92 Purwakarta, Jawa Barat, Senin (2/9/2019). (ANTARA FOTO/Ibnu Chazar)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ombudsman RI mempertanyakan kualitas pelaksanaan uji KIR untuk kendaraan bermotor maupun angkutan barang untuk memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. Hal tersebut menyusul terjadinya tabrakan beruntun yang melibatkan truk di Tol Cipularang KM 91 dalam waktu berdekatan.

"Dalam hal ini kami pertanyakan apakah masih relevan uji KIR untuk menjamin kelaikan jalan atau sekadar formalitas saja," Komisioner Ombudsman RI Alvin Lie, Kamis (12/9).

Ia mengatakan apabila uji KIR dilakukan secara saksama, maka kecelakaan tersebut seharusnya bisa dihindari. Menurutnya, kejadian rem blong yang diduga menjadi penyebab kecelakaan sepatutnya bisa diantisipasi melalui uji KIR.


"Apakah KIR ini juga memeriksa kondisi selang atau pipa yang menghubungkan minyak rem dan rem. Karena rem blong itu tidak tiba-tiba terjadi tapi ada gelagatnya," tuturnya.
Oleh sebab itu, ia mengaku Ombudsman akan mendesak Kementerian Perhubungan khususnya Direktorat Jenderal Perhubungan Darat untuk mengevaluasi pelaksanan uji KIR. Tak hanya itu, ia menyatakan Ombudsman telah membahas kejadian tersebut bersama dengan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

"Hal ini yang akan kami kejar terutama Dirjen Darat agar tidak terulang lagi kecelakaan seperti di Tol Cipularang," katanya.

Sebelumnya, kecelakaan beruntun terjadi di Tol Cipulang arah Bandung menuju Jakarta tepatnya di KM 91. Kecelakaan itu melibatkan sekitar 20 kendaraan dan menimbulkan korban jiwa mencapai 8 orang serta puluhan orang luka-luka.
Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setiyadi mengatakan berdasarkan hasil investigasi penyebab kecelakan karena truk kelebihan muatan hingga 300 persen. Truk seharusnya memuat beban sebesar 12 ton namun menjadi sebesar 37 ton.

Ia menuturkan terdapat penambahan tinggi pada bak truk sehingga kapasitas angkut bertambah dari semestinya.

"Kemudian over loading-nya, ini kan antara operator truk dengan pemilik barang itu pesanannya. Satu mobil itu kelebihan logistiknya 300 persen dari muatannya," ujarnya.
[Gambas:Video CNN] (ulf/ain)