Polri soal Pedemo Dikeroyok Brimob: Bukan Mahasiswa, Perusuh

CNN Indonesia | Rabu, 25/09/2019 12:13 WIB
Polri mengklaim kasus-kasus pengeroyokan terhadap demonstran yang beredar di media sosial bukan dilakukan kepada mahasiswa, melainkan kepada perusuh. Karopenmas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menyebut tak ada mahasiswa perusuh. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah aparat kepolisian di berbagai daerah terekam dalam video melakukan pengeroyokan kepada pendemo yang ditangkap. Polri mengklaim hal itu bukan dilakukan kepada mahasiswa melainkan kepada perusuh.

"Bukan mahasiswa, tapi perusuh. Kalau demo mahasiswa damai dapat dipastikan tidak akan ada ekses seperti yang sudah saya sampaikan jauh-jauh hari," ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (25/9).

Saat ditanya soal dasar pengeroyokan tersebut, Dedi hanya mengatakan pengeroyokan dilakukan kepada perusuh. Ia justru menyebut banyak anggota kepolisian yang terluka dan meninggal dunia saat pengamanan aksi selama ini.


"Itu kan sudah saya sampaikan kalau damai pasti hasilnya damai. Dan berapa banyak anggota polisi yang luka dan meninggal dunia saat pengamanan demo," tuturnya.

Soal luka berat yang diderita mahasiswa jurusan hukum Universitas Al Azhar yang ikut dalam aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR/MPR, Faisal Amir (21), Dedi hanya berdalih bahwa tak ada mahasiswa perusuh.

Polisi memukuli mahasiswa saat terjadi bentrok di depan kantor DPRD Sulsel, Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (24/9).Polisi memukuli mahasiswa saat terjadi bentrok di depan kantor DPRD Sulsel, Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (24/9). (ANTARA FOTO/Abriawan Abhe)
"Enggak ada mahasiswa perusuh. Kalau mahasiswa kan damai demonya. Kalau perusuh kan anarkis," cetus dia.

Diketahui demo mahasiswa berlangsung pada Senin-Selasa, 23-24 September. Mereka menuntut pembatalan sejumlah perundangan kontroversial, seperti UU Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan RKUHP.

Gelombang aksi yang dilakukan mahasiswa itu berujung ricuh di beberapa kota seperti Makassar, Medan, Bandung, dan Jakarta. Mahasiswa dan aparat terlibat bentrok.

Korban luka-luka berjatuhan. Tak hanya itu, sejumlah fasilitas umum turut hancur. Lemparan gas air mata dan water canon menimpa mahasiswa yang menyuarakan penolakan mereka.

Beberapa video yang beredar di media sosial memperlihatkan polisi melakukan pengeroyokan. Video yang diduga terjadi di Medan memperlihatkan sejumlah polisi mengeroyok seorang pria yang mengenakan jas almamater. Pria itu dikeroyok sebelum akhirnya dimasukkan ke dalam gedung.

Sementara itu di Makassar, video memperlihatkan sejumlah polisi mengejar mahasiswa hingga masuk ke dalam Masjid. Dalam video itu memperlihatkan polisi menyeret pria yang hendak diamankan. Selain bawa tameng, polisi juga membawa tongkat pemukul.

Polisi menembakkan gas air mata ke arah para mahasiswa yang melakukan aksi unjuk rasa di depan gedung DPRD Sumut, di Medan, Sumatera Utara, Selasa (24/9).Polisi menembakkan gas air mata ke arah para mahasiswa yang melakukan aksi unjuk rasa di depan gedung DPRD Sumut, di Medan, Sumatera Utara, Selasa (24/9). ( (ANTARA FOTO/Septianda Perdana))
Di Jakarta, sebuah video beredar diduga berlokasi di Gedung JCC, Jakarta Pusat. Dalam video itu memperlihatkan belasan anggota Brimob Polri mengeroyok satu pria hingga terkapar. Wartawan yang merekam pun mendapatkan intimidasi dari aparat.

Salah satu mahasiswa peserta demo di Jakarta pun terdeteksi menjalani operasi evakuasi pendarahan di kepala di RS Pelni, yakni Faisal, mahasiswa Universitas Al-Azhar. Ia disebut mengalami luka di kepala dan patah bahu.

Tak hanya mereka, sejumlah jurnalis juga alami pengeroyokan oleh aparat. Seperti di Makassar, tiga jurnalis alami pengeroyokan oleh Brimob.

(gst/arh)