"Ini yang bikin atau membuat kita bingung juga. Saya tidak katakan ada bayaran, tapi memang ada penyusup dari warga yang bertanggung jawab," kata Mas Guntur Laupe usai menjenguk mahasiswa korban ditabrak mobil barracuda di RS Ibnu Sina.
Dia menyatakan polisi menemukan indikasi penyusup pada aksi, namun masih memerlukan pembuktian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wakil rektor III UMI, Prof Dr Laode Husen juga mengungkap hal senada bahwa massa aksi pada Jumat kemarin sudah bercampur dengan warga yang tidak diketahui kepentingannya.
"Mahasiswa saya harapkan bisa berhati-hati dalam menyuarakan aspirasi, dalam berunjuk rasa, dan lebih tanggap dengan fenomena ini. Jangan mau disusupi oleh oknum yang tidak punya kepentingan langsung dengan gerakan mahasiswa," ujar Laode Husen.
Kericuhan ini pecah menjelang magrib dengan pengunjuk rasa dan aparat kepolisian saling balas lemparan batu dan tembakan gas air mata, serta berlangsung hingga tengah malam.
Pada kerusuhan ini, dua wartawan yang tengah meliput terluka kena anak panah, sementara seorang mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Bosowa (Unibos) bernama Dicky Wahyudi juga dalam kondisi kritis karena tertabrak kendaraan taktis barracuda.
Polisi membantah ada unsur kesengajaan dalam insiden tertabraknya Dicky tersebut.
"Kendaraan taktis tidak sedang mengejar. Hanya melakukan upaya pendesakan agar para pengunjuk rasa mundur. Tidak digilas, ditabrak saja dengan luka di bagian dada karena terbentur bukan karena digilas," kata Mas Guntur Laupe.
(svh/vws)