Potensi Hujan Berkurang, Titik Api di Sumsel Meningkat

CNN Indonesia | Selasa, 01/10/2019 07:39 WIB
Potensi Hujan Berkurang, Titik Api di Sumsel Meningkat Ilustrasi titik api. (ANTARA FOTO / Mushaful Imam)
Palembang, CNN Indonesia -- Jumlah titik api yang muncul di wilayah Sumatera Selatan kembali meningkat pada dua hari belakangan seiring potensi hujan yang turun berkurang. Tercatat, 63 titik api pada Sabtu (28/9) dan 198 titik api terpantau pada Minggu (29/9).

Kepala Bidang Penanganan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel Ansori mengatakan dari 198 titik api tersebut, 150 di antaranya berada di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Kebakaran yang terjadi di lokasi tersebut membawa partikel kebakaran dan asap ke Palembang karena angin yang bertiup dari tenggara.

"Tim darat dan udara terus melakukan pemadaman di lokasi yang terbakar. OKI yang memiliki paling banyak titik api jadi prioritas satgas karena asap hasil kebakaran di sana mengarah ke Palembang," kata Ansori, Senin (30/9).


Meskipun titik panas meningkat, Ansori mengungkapkan indeks standar pencemaran udara (ISPU) di Palembang pada Minggu kemarin masih di kategori sedang yakni 55 mikrogram per meter kubik.

Berdasarkan data yang dirilis di situs BMKG, konsentrasi partikulat PM10 sempat menyentuh kategori tidak sehat pada pukul 07.00 dengan 188,77 dan pada pukul 08.00 dengan 172,29 mikrogram per meter kubik.

Potensi Hujan Berkurang, Titik Api di Sumsel MeningkatFoto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi
Ansori mengungkapkan hingga saat ini luasan lahan yang terbakar di Sumsel mencapai 80.125 hektare. Yang paling luas terjadi di Kabupaten Musi Banyuasin dengan 24.304 hektare, OKI 24.129 hektare, dan Banyuasin 14.612 hektare.

Kepala Seksi Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi SMB II BMKG Sumsel Bambang Beny Setiaji berujar secara regional terdapat penurunan potensi dan intensitas hujan di wilayah Sumsel pada 1-3 Oktober 2019.

Namun secara lokal kondisi hujan akibat faktor lokal awan konvektir akan tetap berpotensi di wilayah Sumsel karena kelembapan udara laposan atas cukup memadai untuk pertumbuhan awan.

"Biasanya hujan terjadi berlangsung sebentar, sporadis, dan berpotensi petir disertai angin kencang," kata dia.

Bambang menjelaskan keberadaan sejumlah titik api di wilayah tenggara Kota Palembang dengan tingkat kepercayaan 80 persen berkontribusi asap yang dibawa oleh angin berkecepatan 7-20 kilometer per jam.

Jarak pandang terendah pada Senin (30/9) pagi hari berkisar 1-2 kilometer dan tidak berdampak pada aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang.

[Gambas:Video CNN]
"Fenomena asap diindikasikan dengan kelembapan yang rendah dengan partikel-partikel kering di udara, mengurangi jarak pandang, beraroma khas, perih di mata, mengganggu pernapasan dan matahari terlihat berwarna oranye atau merah pada pagi dan sore hari. Berpotensi tidak baik jika adanya campuran kelembapan yang tinggi sehingga membentuk fenomena kabut asap.

Pihaknya tetap mengimbau kepada masyarakat untuk mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama pada pagi dan sore hari.



(idz/arh)