Sakit Hati pada Gerindra di Balik Pemilihan Ketua MPR

CNN Indonesia | Jumat, 04/10/2019 19:00 WIB
Pimpinan parpol pengusung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno pada Pilpres 2019 lalu (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Koalisi yang pernah terjalin antara Gerindra, PKS, PAN dan Demokrat pada Pilpres 2019 lalu, sudah benar-benar tiada. PKS, PAN, dan Demokrat tak mendukung Ahmad Muzani dari Gerindra untuk memperoleh kursi ketua MPR pada Kamis kemarin (3/10).

Kemesraan mereka seolah sudah tak berbekas meski pembubaran Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi masih hitungan bulan.

Gelagat PAN, PKS, dan Demokrat itu juga tak sama saat BPN Prabowo-Sandi resmi dibubarkan pada Juni lalu. Kala itu, Muzani, yang merupakan Sekjen Gerindra, mengatakan bahwa kerja sama parpol pengusung Prabowo-Sandi bisa berlanjut di parlemen.


"Beliau [Prabowo Subianto] misalnya mengatakan bagaimana kerjasama di bidang parlemen dan kerja sama dalam forum politik lainnya yang dimungkinkan kita harus bersatu dalam sebuah kepentingan bersama," tutur Muzani (28/6).

Pemilihan Anggota BPK Menjadi Sebab

Pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Gerindra yang mendapat kursi menteri dikabarkan menjadi sebab Demokrat, PAN, dan PKS lebih mendukung Bambang Soesatyo dari Golkar dalam kontestasi ketua MPR.

Sumber CNNIndonesia.com, yang merupakan politikus mantan anggota BPN Prabowo-Sandi pada Pilpres 2019, menyebutkan sejumlah alasan mengapa PAN tak memberikan dukungan kepada Ahmad Muzani dari Gerindra.

Sumber itu mengatakan PAN kecewa karena kadernya tidak diloloskan sebagai anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) periode 2019-2024. Sementara calon dari Gerindra, lolos bersama empat orang lainnya.

"Seleksi anggota BPK itu, calon PDIP yang didukung. Yang dari PAN jadi enggak lolos," tutur sumber CNNIndonesia.com pada Jumat (4/10).


Komisi XI DPR, lewat voting pada 25 September lalu, memilih lima anggota BPK. Mereka adalah Pius Lustrilanang dari Gerindra, Daniel Lumban Tobing dari PDIP, Achsanul Qosasi mantan kader Demokrat, Harry Azhar Azis mantan kader Golkar, dan Hendra Susanto yang merupakan pegawai BPK.

Ada kader PAN yang ikut serta dalam pencalonan. Dia adalah Tjatur Sapto Eddy. Akan tetapi, dia tidak mendapat suara yang cukup dalam voting yang dilakukan Komisi XI DPR.

Ihwal rencana bekerja sama di parlemen setelah Pilpres 2019, sumber itu tidak mau bicara banyak. Dia hanya mengatakan bahwa politik bisa berubah dalam waktu yang sangat cepat.
Sekjen Gerindra Ahmad Muzani gagal memperoleh kursi ketua MPR 2019-2024Sekjen Gerindra Ahmad Muzani gagal memperoleh kursi ketua MPR 2019-2024 (CNNIndonesia/Andry Novelino)
Gerindra Dikabarkan Minta Tambah Jatah Menteri

Sumber CNNIndonesia.com yang lain membeberkan alasan lain mengapa PAN tidak mendukung Muzani dari Gerindra memperoleh kursi Ketua MPR.

PAN tidak mendukung Gerindra memperoleh kursi ketua MPR berkenaan dengan perancangan kabinet pemerintahan selanjutnya. Sumber CNNIndonesia.com menyebut Gerindra kembali meminta satu jatah menteri.

"Gerindra itu minta lagi satu jatah menteri," tuturnya.

Dia tidak menjelaskan kursi menteri apa yang diminta oleh Gerindra. Sumber itu juga tidak mau merinci berapa total kursi menteri yang sudah pasti diperoleh Gerindra.
Meski demikian, pernyataannya tersebut menyuratkan bahwa Gerindra memang sudah mendapat jatah kursi menteri dan meminta lebih banyak.

"Ya sudah kita jalan sendiri-sendiri. Punya pilihan masing-masing di ketua MPR kemarin," ucap sumber.

Pada Juli lalu, sumber CNNIndonesia.com yang merupakan petinggi Gerindra menyebut pihaknya sudah menyiapkan tiga nama untuk didapuk sebagai menteri. Mereka adalah Edhy Prabowo, Fadli Zon, dan Sandiaga Uno.


Dari ketiga nama tersebut, Edhy Prabowo yang memiliki kans paling besar karena disebut sudah diminta langsung oleh Presiden Joko Widodo mengurusi pertanian. Akan tetapi, kala itu, Edhy mengaku belum tahu ihwal kabar tersebut.

"Saya baru dengar kabar itu," ucap Edhy pada Juli lalu.

Usai Pilpres 2019, Gerindra memang tampak akrab dengan PDIP. Terutama Prabowo Subianto dan Megawati Soekarnoputri serta Joko Widodo.

Prabowo bertemu dengan Jokowi di stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta. Kemudian mereka lanjut makan siang bersama di suatu restoran di mal FX.

Kemudian, Prabowo juga mengadakan pertemuan dengan ketua umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Saat itu, saking akrabnya, Megawati memasak nasi goreng khusus untuk Prabowo.

Gerindra Maklum Tiap Parpol Punya Agenda Sendiri

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2