Terlebih lagi, kata dia, Jokowi sudah memiliki legitimasi kuat lewat kemenangan dengan selisih suara 10 persen dari pesaingnya, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, di Pilpres 2019.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mekanisme itu nantinya mampu membuat proses demokratisasi di Indonesia menjadi sehat karena ada mekanisme check and balance dalam pemerintahan selama lima tahun ke depan.
"Sudahlah kita pakai peraturan yang bagus aja, demokrasi mengenal yang adanya di pemerintahan dan di luar pemerintahan. Yang menang memimpin, yang kalah enggak perlu ditarik dan kemudian malah menghadirkan kehebohan," kata dia.
Hidayat lantas mengingatkan agar Jokowi lebih dulu memuaskan parpol koalisinya sebelum mmengajak pihak lain bergabung.
"Lebih bagus Pak Jokowi memuaskan dan memberikan maksimal hak daripada partai pendukung. Dan yang tidak menang berada di luar kabinet dan itu konstitusional," kata dia.
"Kami tidak pernah takut. Karena kami yakin. Kalau memang PAN keputusannya ada berada di luar kabinet berarti bersama PKS. Jangankan dengan PAN, sendirian saja berani. Kami ini bukan menantang atau tidak, tapi logika politik adalah jelas demokrasi memerlukan check and balances," kata dia.
(rzr/arh)