Jusuf Kalla dan Sepenggal Cerita Liputan di Istana Wapres

CNN Indonesia | Sabtu, 19/10/2019 17:41 WIB
Wapres Jusuf Kalla. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pertanyaan, "Sudah makan belum?", tak pernah absen dilontarkan Wakil Presiden Jusuf Kalla kepada wartawan yang akan mewawancarainya setiap Selasa di Istana Wapres, Jakarta. Belasan wartawan dari media cetak, online, maupun televisi yang sudah menunggunya di lobi Kantor Wapres pun akan kompak menjawab, "Sudah, Pak."

Hari Selasa memang menjadi jadwal bagi JK, sapaan karibnya, untuk meladeni pertanyaan dari wartawan yang bertugas di kantornya. JK yang telah mendampingi Presiden Joko Widodo sejak 2014 itu bakal menjawab sejumlah pertanyaan dari wartawan terkait isu-isu teranyar sepekan terakhir. Istilah ini dikenal dengan doorstop dalam dunia peliputan.

Para wartawan tak tahu pasti kenapa jadwal wawancara itu jatuh tiap Selasa. Mungkin karena awal pekan atau mungkin juga Selasa menjadi hari yang tak terlalu sibuk bagi JK sebagai Wapres.


Namun yang kami ingat, JK selalu bersedia menjawab pertanyaan apa pun dari wartawan di hari itu. Mulai dari kebijakan pemerintah, isu hukum, ekonomi, dan gosip soal politik. Tak jarang pada kesempatan itu ia kerap mengkritik sejumlah kebijakan yang dikeluarkan pemerintah.

Kritiknya tak asal bunyi. Kadang kami berpikir jawaban yang disampaikan JK logis dan masuk akal meski ia sebenarnya bagian dari pemerintahan.

Salah satu kritik yang saya ingat dan masuk akal adalah soal sepinya Bandara Kertajati, Majalengka, Jawa Barat. Ia menyebut bandara itu sepi karena pembangunannya kurang perencanaan. Ditambah lokasinya yang jauh dari pusat kota Bandung.

"Perencanaannya memang tidak terlalu bagus. Lain kali jangan kita buat karena hanya ingin ada airport, karena ternyata letaknya tanggung," katanya April lalu.

Hanya itu? Tentu tidak. Pembangunan proyek Lintas Rel Terpadu (Light Rail Transit/LRT) dan jalur kereta api trans-Sulawesi pun pernah jadi sasaran kritiknya. Kedua proyek itu dianggap JK tak efisien.

Saat ditanya soal berbagai kritikan itu, JK yang juga pernah menjadi Wapres Presiden RI ke-6 Soesilo Bambang Yudhoyono, mengaku hanya berusaha objektif dengan menyampaikan kritik agar pemerintah menjadi lebih baik. Ia tak menampik bahwa pemerintah juga bisa keliru sehingga harus ada perbaikan.

Padat Agenda

Selama dua tahun bertugas meliput JK, bisa dibilang cukup kewalahan mengikuti agendanya setiap hari. Dalam sehari, ia bisa mendatangi tiga sampai empat acara. Itu pun tak semua acara yang didatangi terkait dengan tugasnya sebagai Wapres. Maklum, selain sebagai orang nomor dua di negeri ini, JK juga menjabat sebagai Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan Palang Merah Indonesia (PMI).

Belum lagi jika ia harus menerima tamu, baik pejabat, akademisi, hingga organisasi masyarakat di Kantor Wapres maupun rumahnya. Mereka umumnya berkonsultasi atau sekadar memberi undangan acara.

Ia pun selalu terlihat masih sangat sehat dan bersemangat mengikuti berbagai rangkaian agenda. Padahal usianya 2019 ini sudah memasuki 77 tahun. Belum pernah terdengar kabar JK sakit serius.

Terakhir, ia memang sempat dirawat selama 10 hari di rumah sakit untuk menjalani perawatan usus pada Juni lalu. Saat itu bahkan JK terpaksa tak bisa melayat ke rumah duka ketika istri SBY, Ani Yudhoyono wafat. Sebelumnya ia hanya pernah dirawat untuk pemasangan ring di jantung pada 2015.

Sisanya ia masih bisa 'gesit' di tengah padatnya agenda. Ia menunjukkan bahwa dirinya masih cukup mampu untuk ke sana kemari.

Dalam wawancara dengan tim CNN Indonesia TV September lalu, JK mengaku tak punya rahasia khusus dalam menjaga kesehatan.

Berbeda dengan Jokowi yang gemar minum jamu, JK memilih untuk menjaga kesehatan hanya dengan makan dan olahraga teratur. Selain itu, kunci sehat JK selama ini adalah ikhlas.

"Saya ikhlas-ikhlas saja menikmati semua, wawancara saya nikmati, rapat saya nikmati, ke daerah saya nikmati, ke luar negeri saya nikmati. Jadi kita harus ikhlas," tuturnya.

[Gambas:Video CNN]
JK memang terbilang cukup sering melakukan perjalanan dinas ke luar kota maupun luar negeri. Jika dibandingkan Jokowi, mantan Ketua Umum Partai Golkar itu lebih banyak melakukan perjalanan dinas ke luar negeri.

Wartawan kerap 'pusing' jika ditinggal JK dinas ke luar negeri berhari-hari. Karena itu artinya jadwal wawancara tiap Selasa ditiadakan. Ada semacam rasa kehilangan karena sumber berita utama yang rutin setiap pekan diwawancara tidak ada.

Seperti pada September lalu saat JK mewakili Jokowi mengikuti Sidang Ke-74 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat hampir dua pekan. Selama pemerintahan Kabinet Indonesia Kerja, kehadiran Jokowi dalam Sidang Umum PBB memang selalu diwakili JK.

Keikutsertaan JK dalam Sidang Umum PBB ini merupakan kali terakhir setelah lima tahun berturut-turut digelar. Saat itu ia mengutarakan harapan agar Jokowi bisa hadir dalam Sidang PBB tahun depan.

"Semua menanyakan, mana Pak Joko? Jadi yang ditanya Pak Jokowi. Saya harap Pak Jokowi nanti juga hadir," katanya.
HALAMAN :
1 2