Karhutla, Kualitas Udara Palembang Masih Berbahaya

CNN Indonesia | Selasa, 15/10/2019 14:13 WIB
Karhutla, Kualitas Udara Palembang Masih Berbahaya Foto udara kawasan Kota Palembang yang tertutup kabut asap, Sumatera Selatan. (ANTARA FOTO/Nathan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Titik api yang terdeteksi berada di Sumatera Selatan, Selasa (15/10) terpantau menurun sejak kabut asap ekstrem yang terjadi di Palembang dan sekitarnya, Senin (14/10).

Namun, kabut asap masih menyebabkan kualitas udara di Palembang sempat berbahaya serta jarak pandang pada pagi hari belum mencapai titik normal.


Berdasarkan data Dinas Kehutanan Sumsel, terdapat 415 titik api hingga Selasa (15/10). Paling banyak terdapat di Ogan Komering Ilir (OKI) dengan 247 titik api yang letaknya berada di tenggara Palembang. Kabut asap yang terjadi di Palembang disebabkan oleh titik api yang berada di OKI. Jumlah tersebut berkurang dari jumlah titik api pada hari sebelumnya yakni 732 titik api, dengan 437 diantaranya berada di OKI.



Pantauan konsentrasi partikulat pm10 di situs BMKG, sejak pukul 00.00-09.00 WIB menunjukkan kualitas udara di Palembang memasuki kategori berbahaya. Pada pukul 00.00 angka pm10 berada di titik 585,32 mikrogram per meter kubik, titik puncak pada pukul 06.00 dengan 841,32 mikrogram per meter kubik.


Kemudian berangsur menurun pada pukul 09.00 dengan 543,68 mikrogram per meter kubik. Diketahui nilai ambang batas konsentrasi pm10 Masih bisa ditolerir yakni 0-160 mikrogram per meter kubik dengan kategori bank-sedang.


General Manajer AirNav Indonesia Cabang Palembang Ario Subandrio mengatakan, jarak pandang di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang stabil di angka 500 pada pukul 05.30-08.00. Angka tersebut di bawah normal atau terbatas karena jarak pandang yang direkomendasikan untuk penerbangan secara aman adalah minimal 800 meter.

Akibat kondisi tersebut, satu penerbangan sempat ditunda keberangkatannya, dari Pangkal Pinang ke Palembang hingga jarak pandang membaik.


"AirNav bertugas merekomendasikan saja, kita selalu memberikan Notam (notice to airmen) untuk kondisi-kondisi di landasan. Keputusan tetap berada di tangan penerbang," ujar dia.


Meski begitu, kondisi ini lebih baik daripada Senin (14/10) saat kabut asap ekstrem melanda Palembang dengan jarak pandang di landasan hanya 50 meter. Hingga pukul 10.00 baru membaik, meskipun ada 28 penerbangan yang terganggu.


"Kami harap penumpang maklum, karena yang terpenting adalah keselamatan. Kami terus memantau perkembangan udara yang menyampaikannya ke pihak berwenang agar aktivitas penerbangan berjalan lancar," kata dia.
Udara Palembang Masih Berbahaya, Jarak Pandang Belum NormalFoto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi


Sementara itu, Kabid Penanganan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan Ansori berujar, kebakaran lahan masih terjadi di beberapa lokasi terutama di sekitar Palembang dan Ogan Komering Ilir (OKI). Kebakaran di lokasi tersebut yang menyebabkan asap bercampur kabut terkirim angin ke Palembang.

"Kabut asap hari ini masih ada, tapi tidak separah kemarin karena kemarin beberapa titik berhasil dipadamkan. Titik api juga berkurang hari ini," kata Ansori.


Sumber utama karhutla terjadi di OKI yakni kecamatan Cengal, Pangkalan Lampam, Pedamaran, serta Tulung Selapan. Ansori mengungkapkan, kesulitan yang dialami oleh petugas pemadaman di lapangan yakni sulitnya akses menuju lokasi kebakaran dan sedikitnya sumber air karena musim kemarau.
[Gambas:Video CNN]

Lahan gambut yang terkadang mencapai kedalaman 20 meter menyebabkan lokasi tersebut sulit dipadamkan. Meskipun api di permukaan sudah habis, gambut di dalam permukaan tanah masih terbakar.

"Api di atas dipadamkan, nanti ada proses pembasahan juga. Namun apabila gambut di dalam masih terbakar, nanti api akan membesar lagi. Itu sulit diatasinya," ujar dia.

Upaya Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) pun belum optimal karena potensi awan hujan yang tidak ada. Meskipun begitu, BMKG memprakirakan terdapat potensi hujan di sebagian wilayah Sumsel pada 17 Oktober mendatang. Pihaknya berharap hujan dapat membasahi lokasi kebakaran.

"Harapannya itu agar lokasi terbakar bisa dibasahi hujan jadi kabut asap ke Palembang pun berkurang," ujar Ansori.
(idz/ugo)