Resmi Ditutup, Lokalisasi Sunan Kuning Jadi Pusat Kuliner

CNN Indonesia | Jumat, 18/10/2019 10:46 WIB
Resmi Ditutup, Lokalisasi Sunan Kuning Jadi Pusat Kuliner Kawasan prostitusi Sunan Kuning di Semarang resmi ditutup. (CNN Indonesia/ Damar)
Semarang, CNN Indonesia -- Kawasan Resosialisasi Argorejo Semarang atau yang akrab disebut Sunan Kuning hari ini resmi ditutup sebagai tempat prostitusi.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi yang didampingi sejumlah tokoh masyarakat, LSM dan Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) resmi memasang papan nama bertuliskan 'Wilayah Argorejo (SK) Kawasan Bebas Prostitusi' di depan portal gapura masuk kompleks Sunan Kuning.

"Ini sudah program dari Pemerintah Pusat dalam menutup seluruh lokalisasi di Indonesia. Kami pun sebagai Pemerintah Kota Semarang tentunya mendukung program tersebut karena memiliki tujuan yang baik," kata Hendrar, Jumat (18/10).


Hendrar mengatakan, sebagai bentuk komitmen, pihaknya telah memberikan tali asih kepada para wanita pekerja seks komersil yang diharapkan dapat digunakan sebagai modal membuka usaha.


Tali asih terhadap para PSK tersebut berbentuk uang tunai senilai 5 juta rupiah yang diberikan langsung melalui transfer bank sehingga tidak berpotensi terjadinya pungutan liar atau pungli.

"Dari awal komitmen kami, ingin menutup tanpa ada konflik. Makanya kami lakukan secara manusiawi, berjalan dengan tahapan-tahapan dari sosialisasi, mediasi, dan akhirnya saling sepakat. Mungkin yang kami berikan nilainya jauh dibandingkan dengan perolehan saudari kita yang bekerja disini selama bertahun-tahun," terang Hendrar.

Oleh Pemkot Semarang, kawasan Sunan Kuning akan dijadikan kampung tematik atau kampung kuliner yang memiliki nilai wisata, karena lokasinya sangat strategis dekat dengan Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang.

[Gambas:Video CNN]

Dari data disebut jumlah PSK di Sunan Kuning berjumlah 478 orang, dimana mereka berasal dari sejumlah daerah di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur bahkan Sumatera.

Sebelumnya, dana tali asih sebesar Rp5 juta rupiah yang digunakan sebagai modal usaha untuk para PSK bersumber dari APBD Kota Semarang. 

Bagi PSK yang sudah menerima tali asih diminta untuk segera pulang ke kampung halamannya.

"Tali asih ini sesuai dengan komitmen dan kesepakatan bersama antara Pemerintah dengan penghuni. Mereka yang sudah menerima, diminta untuk segera pulang ke kampung halamannya untuk berwirausaha," ujar Hendrar

Ketua Resosialisasi Argorejo Sunan Kuning Suwandi berharap penutupan Sunan Kuning hanya pada tempat prostitusinya saja. Sedangkan untuk kafe dan tempat karaoke yang ada, Suwandi berharap untuk tidak ikut ditutup.

Penutupan Sunan Kuning, tak bisa diterima oleh seluruh PSK. Pasalnya, kompensasi yang diberikan tak cukup untuk modal usaha.

"Tali asihnya berapa ya? Saya dan teman-teman itu tambah bingung. Kalau hanya di kisaran Rp5 [juta] sampai Rp10 juta mana bisa untuk modal usaha. Kalau modal usaha ya biasanya Rp50 [juta] sampai Rp100 juta, mungkin kita bisa terima," kata Wulan (37) salah satu PSK di Sunan Kuning, kepada CNNIndonesia.com, Senin (12/8).

Perempuan asal Salatiga ini mengaku terpaksa menjadi PSK karena terdesak keadaan. Wulan mengaku ditinggalkan oleh suaminya yang lari dengan wanita lain. Sementara, dirinya harus menafkahi dua orang anaknya yang dititipkan kedua orang tuanya di kampung halaman.

"Yah, dikatakan terpaksa, ya terpaksa, Pak. Siapa yang mau jadi gini, jual diri? Tapi mau gimana lagi, anak saya masih kecil, butuh susu dan biaya sekolah. Saya juga bantu kebutuhan orang tua juga," kata dia.


LSM Lentera Asa, yang selama ini mendampingi para PSK Sunan Kuning, berharap pemerintah daerah dapat memberikan solusi untuk para PSK yang akan kehilangan mata pencaharian.

Penutupan lokalisasi ini pun, menurut LSM tersebut, juga akan berdampak pada warga yang membuka usaha di sekitar lokalisasi seperti warung makan, kedai minum, hingga karaoke.

Lokalisasi Sunan Kuning Semarang mulai ada sejak tahun 1966 dengan bertempat di kampung Sri Kuncoro Argorejo Semarang. Dari tahun ke tahun, nama Lokalisasi Sunan Kuning terus melegenda namun juga mendapat cibiran negatif dari sebagian masyarakat.

Akhirnya, di tahun 2009, nama lokalisasi diganti menjadi resosialisasi karena warga sekitar dan PSK berkomitmen untuk menjadikan Sunan Kuning sebagai tempat pemulihan para PSK dari praktek prostitusi.

(dmr/DAL)