Taburan Pantun Bamsoet dan Pepatah Bugis di Pelantikan Jokowi

CNN Indonesia | Minggu, 20/10/2019 18:52 WIB
Taburan Pantun Bamsoet dan Pepatah Bugis di Pelantikan Jokowi Ketua MPR Bambang Soesatyo (tengah) memimpin upacara pelantikan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin di Gedung Nusantara, kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Minggu (20/10). (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Salah satu keriuhan tersendiri dalam prosesi pelantikan Presiden-Wakil Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin adalah taburan pantun yang keluar dari mulut Ketua MPR Bambang Soesatyo saat memimpin sidang paripurna dengan agenda tunggal tersebut, Minggu (20/10).

Setidaknya ada enam pantun yang diucapkan pria yang karib disapa Bamsoet yang membuat suasana sidang menjadi cair.

Pantun pertama dilemparkan Bamsoet soal kehadiran Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto. Ia mengapresiasi kedatangan mantan pesaing Jokowi dalam Pilpres 2019 itu.


"Dari Teuku Umar ke Kertanegara, dijamu nasi goreng oleh Ibu Mega. Meski Pak Prabowo tak jadi kepala negara, tapi masih tetap bisa berkuda dan lapang dada," demikian luncuran pantun yang keluar dari mulut Bamsoet dan disambut tepuk tangan hadirin termasuk Prabowo yang mengangkat lebih tinggi tangannya sambil menegakkan badan di tempat duduknya.

Bamsoet pun kembali berpantun ketika ia menyampaikan salam perpisahan kepada Jusuf Kalla yang mengakhiri jabatan sebagai Wapres 2014-2019. Namun, berbeda dengan pantun yang diberikan kepada Prabowo, untuk JK disampaikannya dalam bahasa Bugis yang merupakan suku bangsa asal sang wapres.

"Saya sengaja menyampaikannya dalam bahasa Bugis yang artinya kurang lebih sebagai berikut 'buah nangka buah durian tak dapat dijadikan minuman, sungguh besar pengabdian tak sanggup ditatar kebaikanmu'," ujar Bamsoet.

Bukan hanya Bamsoet yang menyampaikan pesan tersendiri kepada JK menggunakan bahasa Bugis. Jokowi yang kembali dilantik pada Minggu ini pun mengucapkan terima kasih kepada JK yang mendampinginya selama periode 2014-2019 menggunakan bahasa Bugis. Bukan pantun yang diucapkan Jokowi, melainkan pepatah.

"Pura babbara' sompekku/ Pura tangkisi' golikku/ Layarku sudah terkembang/ Kemudiku sudah terpasang/ Kita bersama/Menuju Indonesia maju!!!//" demikian luncuran pepatah Bugis yang diucapkan Jokowi saat pidato perdananya sebagai Presiden 2019-2024 di MPR tersebut.

Sejam berlalu, Bamsoet kembali melanjutkan pidato. Sesaat sebelum menutup sidang paripurna pelantikan presiden-wakil presiden, lagi-lagi ia melemparkan pantun. Bukan hanya satu, setidaknya empat sekaligus ia lontarkan.


Rentetan tiga pantun pertama ditujukannya kepada Jokowi yang baru saja dilantik sebagai Presiden 2019-2024. Pantun ini berisikan mengenai semangat persatuan NKRI dan kehidupan bangsa Indonesia.

"Bernyanyi berdendang sambil gembira,tanda hati sedang bersukacita. Jika berkuasa jangan lupa karena rakyat kita dipercaya,"  kata Bamsoet.

"Jalan-jalan ke Gunung Jati, singgah di pasar beli kemiri. Kita semua siap mati, demi mempertahankan NKRI."

"Terbang tinggi burung merpati, hinggap lama di pohon Mahoni. Kami titip NKRI pada pak Jokowi agar rakyat hidup dalam harmoni."

[Gambas:Video CNN]
Pantun itu membuat riuh tamu dan hadirin. Bamsoet pun akhirnya menutup pidato sekaligus tanda mengakhiri paripurna. Namun sebelum mengucapkan salam akhir, Bamsoet tak kehabisan pantun.

Ia melemparkan pantun terakhirnya. "Cuci tangan sampai bersih, cukup sekian dan terima kasih," tutup dia.

(ctr)