Kasus RJ Lino, KPK Dalami Keterangan Adik Bambang Widjojanto

CNN Indonesia | Selasa, 22/10/2019 05:21 WIB
Kasus RJ Lino, KPK Dalami Keterangan Adik Bambang Widjojanto Mantan Senior Manajer Peralatan PT Pelindo II (Persero) Haryadi Budi Kuncoro. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Jakarta, CNN Indonesia -- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menyelesaikan pemeriksaan terhadap dua orang saksi terkait kasus yang menjerat mantan Dirut Pelindo II RJ Lino.

Kedua orang itu ialah mantan Senior Manager Peralatan PT Pelindo II dan Pj Direktur Utama PT Jasa Peralatan Pelabuhan Indonesia (JPPI) Haryadi Budi Kuncoro dan Direktur Teknik dan Operasional PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II Ferialdy Noerlan.

"Penyidik mendalami keterangan saksi terkait dengan proses pengadaan QCC [Quay Container Crane] di Pelindo II," ujar Juru Bicara KPK Febri Diansyah melalui keterangan tertulis, Senin (21/10).



Haryadi merupakan adik kandung dari mantan Wakil Ketua KPK 2011-2015 Bambang Widjojanto. Sementara PT JPPI adalah anak perusahaan PT Pelindo II yang bergerak di bidang jasa perawatan peralatan dan alat berat yang didirikan pada 2012.

Haryadi selaku Senior Manager Peralatan PT Pelindo II adalah orang yang langsung bertanggungjawab dalam pemesanan peralatan yang digunakan PT Pelindo II, termasuk QCC yang didatangkan dari perusahaan HDHM (PT Wuxi Hua Dong Heavy Machinery. Co.Ltd.) asal China.

Sebelumnya, Hariyadi dan Ferialdy juga telah ditetapkan sebagai tersangka kasus pengadaan mobile crane oleh Bareskrim Polri.

Sementara dalam perkara ini, meskipun telah ditetapkan sebagai tersangka pada 15 Desember 2015 lalu, RJ Lino sampai saat ini belum ditahan.


RJ Lino ditetapkan KPK sebagai tersangka karena diduga memerintahkan pengadaan tiga QCC dengan menunjuk langsung perusahaan HDHM (PT Wuxi Hua Dong Heavy Machinery. Co.Ltd.) dari China sebagai penyedia barang.

Menurut KPK, pengadaan tiga unit QCC tersebut tidak disesuaikan dengan persiapan infrastruktur yang memadai (pembangunan powerhouse), sehingga menimbulkan inefisiensi.

Terdapat potensi kerugian keuangan negara sekurang-kurangnya 3.625.922 dolar AS (sekitar Rp50,03 miliar) berdasarkan Laporan Audit Investigatif BPKP atas Dugaan Penyimpangan Dalam Pengadaan 3 Unit QCC Di Lingkungan PT Pelindo II (Persero) Tahun 2010 Nomor: LHAI-244/D6.02/2011 Tanggal 18 Maret 2011. (ryh/end)