Asap Palembang Masih Pekat, Api di Gunung Arjuno Dibom Air

CNN Indonesia | Rabu, 23/10/2019 02:03 WIB
Asap Palembang Masih Pekat, Api di Gunung Arjuno Dibom Air Palembang masih diselimuti asap karena karhutla di lahan gambut susah padam. (ANTARA FOTO/Mushaful Imam)
Palembang, CNN Indonesia -- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan diperkirakan telah menghanguskan lebih dari 200 ribu hektare lahan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat adanya peningkatan intensitas asap seiring penurunan potensi hujan di Palembang dan sekitarnya.

Kepala Bidang Penanganan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan Ansori berujar karhutla di Sumsel per 15 Oktober 2019 telah mencapai 174.528 hektare. Meskipun data terbaru masih diolah, diperkirakan lahan yang terbakar sudah mencapai 200 ribu hektare.

Saat ini kebakaran terjadi di wilayah Palembang, Ogan Komering Ilir (OKI), Lahat, Empat Lawang, dan Pagaralam. Palembang dan OKI menjadi wilayah yang paling parah karena terjadi di atas lahan gambut yang sulit dipadamkan. Sedangkan karhutla di daerah lain terjadi di atas lahan mineral yang mudah dipadamkan.


Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup Sumsel, Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Palembang dua hari berturut-turut dalam kondisi tidak sehat sejak Senin (21/10) dengan 147 mikrogram per meter kubik hingga Selasa (22/10) 155 mikrogram per meter kubik.

Ansori mengungkapkan berkurangnya potensi hujan menyebabkan asap pun akan semakin pekat. "Status siaga darurat bisa saja diperpanjang jika kebakaran dan dampak asap masih mengkhawatirkan. Namun keputusan perpanjangan akan didiskusikan dengan instansi terkait," kata dia.

Teknik pemadaman karhutla dengan water bombing.Teknik pemadaman karhutla dengan water bombing. (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi)
Sementara itu, Kepala Seksi Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi SMB II Palembang Bambang Benny Setiadji mengungkapkan intensitas asap umumnya meningkat pada pagi dan sore hari.

"Kondisi asap masih tetap berpotensi terjadi di Sumsel dikarenakan wilayah-wilayah yang memiliki jumlah titik panas yang signifikan belum terpapar hujan yang cukup, mengingat luas dan dalamnya lahan gambut yang terbakar," ujar Bambang.

Selain itu, ada penurunan potensi hujan secara regional selama tiga hari ke depan (22-24 Oktober) akibat badai tropis Neoguri dan Bualoi di Samudera Hindia. Secara lokal, hujan tetap berpotensi di wilayah bagian barat Sumsel.

Terpisah, Kepala Seksi Kedaruratan BPBD Jatim Satriyo Nur Seno mengatakan pihaknya bisa mengoptimalkan pengeboman air atau water bombing ke titik karhutla di sekitar Gunung Arjuno-Welirang. Kondisi cuaca pun cukup bersahabat pada Selasa (22/10) pagi ini, setelah sempat memburuk pada Senin (21/10).

"Hari ini sudah optimal jalan. Sudah sekitar 12 ribu ton pemadaman dilakukan di Arjuno-Welirang, tapi juga kan banyak titiknya belum bisa padamkan semua," ujarnya.

Namun, akunya, proses water bombing hanya berlangsung lima jam, yakni pukul 06.00-11.00 WIB. Sementara pada pukul 13.00 WIB angin mulai kencang.

[Gambas:Video CNN]
"Tidak berani untuk terbang sudah berbahaya. Sebab yang paling aman ialah 10 knot," kata Satriyo.

Selain wilayah Arjuno-Welirang, kata dia, karhutla di Jatim terus meluas. Dalam satu pekan ini, sedikitnya ada enam wilayah gunung yang terbakar. Yakni, Gugusan Gunung Ijen, Tahura Raden Soerjo Arjuno-Welirang, Gugusan Gunung Wilis, Pegunungan Kawi, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, dan Gunung Raung.

BPBD Jatim pun, kata dia, belum bisa memetakan dampak kebakaran. Namun hasil laporan, setidaknya sudah ada 3.000 hektare lebih yang terdampak

"Kalau luasannya itu kami belum bisa mendata-data secara rinci. Tapi info dari kawan-kawan, Perhutani maupun Tahura maupun TNBTS ada ribuan hektar," kata dia.

(idz/frd/arh)