Pasalnya, kedua kursi menteri tersebut di atas biasanya diduduki oleh perwakilan dari Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU).
"Wajar (protes) karena mayoritas psikologis cukup kuat dalam tanda kutip pos Kemenag dan Kemendikbud, dua kementerian yang memang ranah politiknya Muhammadiyah," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Minggu (27/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mencontohkan posisi Mendikbud diberikan kepada pendiri dan mantan CEO Gojek, Nadiem Makarim, yang dinilai tidak cocok jika mengelola manajemen pendidikan.
Selain itu, sistem pendidikan yang dibangun oleh Muhammadiyah sudah cukup maju dan tidak sebaik ormas lainnya di Indonesia.
"Sebenarnya ini juga hak prerogatif presiden, tidak ada yang bisa diganggu gugat. Yang jadi persoalan, keputusan presiden itu juga harus sesuai dengan aspirasi masyarakat," imbuhnya.
[Gambas:Video CNN]
Larang Komentar
Ketua Bidang Pustaka dan Informasi Muhammadiyah Dadang Kahmad mengaku melarang anggotanya untuk mengomentari lebih jauh Kabinet Indonesia Maju yang dibentuk oleh Jokowi-Ma'ruf Amin.
Sebelumnya, mencuat pernyataan Wakil Ketua Majelis Tabligh Muhammadiyah Fahmi Salim yang kecewa atas pengangkatan Nadiem Makarim. Ketua Umum Muhammadiyah Haedar Nashir juga ikut mempersoalkan para pembantu Jokowi dalam Kabinet Indonesia Maju.
Kemudian, Dadang mengimbau kepada anggota Muhammadiyah tidak mengeluarkan pernyataan politik terkait Kabinet Indonesia Maju. Ia juga mengimbau agar anggota Muhammadiyah tidak mengeluarkan pernyataan terkait masalah nasional lainnya yang tidak sejalan dengan kepribadian dan garis kebijakan Muhammadiyah. (din/bir)