PBNU: Tak Ada Cium Tangan Wolak-walik ke Habib Jika Tanpa NU

CNN Indonesia | Kamis, 31/10/2019 15:33 WIB
PBNU: Tak Ada Cium Tangan Wolak-walik ke Habib Jika Tanpa NU Ilustrasi PBNU. (Dok. Istimewa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Harian Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Robikin Emhas menyatakan kalangan Nahdliyin sudah menghormati habib sejak sebelum Indonesia merdeka. Robikin bahkan menyebut tak akan ada tradisi cium tangan bolak-balik ke habib jika NU tak mempeloporinya lebih dulu.

"Boleh jadi tidak ada cium tangan wolak-walik kepada habaib jika NU tidak melakukannya. Mengapa? Karena hal itu merupakan bagian dari perintah agama," kata Robikin saat dikonfirmasi, Kamis (31/10).

Sebelumnya, Ketua Umum PBNU Said Aqil Sirodj mengajak untuk menghormati para habaib, termasuk pemimpin FPI Rizieq Shihab.


"Maka kita wajib menghormati ahlul bait habaib, semua habaib enggak pandang bulu. Kita harus hormat. Habib Jindan, Habib Lutfi, Habib Syeh. Siapa lagi? Habib Rizieq," kata Said semalam.

Robikin melanjutkan NU sejak 1984 sudah mengembangkan konsepsi tri-ukhuwah yg dipelopori KH Ahmad Shidiq. Konsep itu mengajarkan agar sesama manusia tak boleh memutuskan persaudaraan karena perbedaan pemikiran.

[Gambas:Video CNN]
"Jangankan terhadap orang yang qiblatnya sama, Tuhan yang disembah sama, bahkan terhadap warga negara dan sesama manusia di seluruh penjuru dunia persaudaraan tak boleh diputus hanya karena perbedaan pemikiran," ujarnya.

Namun, kata Robikin, yang perlu ditegaskan adalah NU tak mendukung gagasan negara Islam atau Indonesia bersyariah maupun khilafah. Menurutnya, bagi NU bentuk negara Indonesia ini sudah final.

Robikin mengungkapkan sejak sebelum kemerdekaan, NU melalui Muktamar ke-11 di Banjarmasin tahun 1936, sudah menegaskan bahwa nusantara adalah darussalam.

"Final sebagai kesepakatan para pendiri bangsa (mu'ahada wathaniyah) yang karenanya wajib bagi generasi berikutnya untuk mematuhinya," tuturnya.

Terkait konsepsi dakwah, kata Robikin, NU berpandangan "amar ma'ruf harus dilakukan bil ma'ruf dan nahi munkar pun harus dikerjakan bil ma'ruf." Selain di bidang keagamaan, menurutnya, NU juga memiliki konsen dalam penguatan ekonomi warga.

"Saya percaya FPI memiliki atensi mengenai hal ini. Akses terhadap keadilan, termasuk keadilan ekonomi boleh jadi merupakan sejenis common sense seluruh ormas yang ada," katanya.

(fra/arh)