Memasuki Musim Hujan, PVMBG Waspadai Aktivitas 3 Gunung Api

CNN Indonesia | Jumat, 01/11/2019 00:30 WIB
Memasuki Musim Hujan, PVMBG Waspadai Aktivitas 3 Gunung Api Ilustrasi aktivitas Gunung Anak Krakatau. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mendeteksi terdapat tiga gunung api yang perlu diwaspadai jelang memasuki musim penghujan. Kepala Subbidang Mitigasi Gunung Api PVMBG Devy Kamil Syahbana memaparkan gunung api itu antara lain Gunung Karangetang di Sulawesi Utara, Gunung Anak Krakatau di Lampung, serta Gunung Merapi di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Karangetang kini berstatus siaga sementara dua lainnya ada di status waspada atau level II.

"Untuk level normal, meskipun levelnya normal tapi gunung api ini berbeda dengan gunung lainnya. Jadi masih ada aktivitas erupsi, ini ada 47 gunung api. Lalu level II yakni waspada ada 19 gunung api, level III atau siaga ada tiga gunung api dan level IV atau awas itu tidak ada," terang Devy saat konferensi pers di Gedung BNPB, Jakarta Timur, Kamis (31/10).


"Karangetang ini yang paling tinggi ditandai dengan guguran lava hingga sejauh 1.000 hingga 1.750 meter dan hembusan asap setinggi 25 hingga 600 meter," jelas dia lagi.
Memasuki Musim Hujan, PVMBG Waspadai Aktivitas 3 Gunung ApiGunung Karangetang. (ANTARA FOTO/Adwit B Pramono)

Di Karangetang, PVMBG merekomendasikan masyarakat untuk tidak mendekati atau beraktivitas di radius 2,5 kilometer.

Sementara rekomendasi untuk warga di sekitar Gunung Anak Krakatau diimbau menjauh hingga radius 2 kilometer. Tapi warga yang melaut masih bisa beraktivitas karena potensi bahaya diperkirakan hanya di sekitar Pulau Anak Krakatau.

"Sampai sekarang aktivitas erupsi masih berlangsung namun tingkat eksplosivitas masih rendah. Tipe bahayanya berupa lontaran material erupsi di sekitar kawah," tutur dia.

Adapun untuk warga di sekitar Gunung Merapi, PVMBG mengimbau warga agar tak beraktivitas di radius 3 kilometer. Selain itu jika terjadi erupsi hujan abu maka warga diiumbau menggunakan masker dan kacamata serta mewaspadai aliran lahar.

"Gunung api ini terus mengalami erupsi tapi dengan rate yang lambat. Peluang terjadi erupsi seperti 2010 masih sangat rendah. Apa yang mungkin terjadi adalah guguran lava dan erupsi, terakhir 14 Oktober lalu ada sekali serupsi 3.000 meter diikuti awan panas dan maksimum 2 kilometer," tutur Devy.
Secara umum bencana gunung api tak semata dipengaruhi musim hujan akan tetapi Devy menuturkan ada sejumlah potensi bahaya yang perlu diwaspadai di antaranya gerakan tanah atau longsor, akumulasi gas vulkanik beracun di area kawah saat cuaca mendung juga guguran kubah lava.

"Di musim hujan ini hujan mampu men-trigger kubah lava yang tidak aktif tapi juga tidak stabil bisa dipicu oleh hujan untuk menjadi guguran, longsoran, atau bahkan bisa menjadi lahar hujan," terang dia.

Pada periode Oktober ini PVMBG mencatat sejumlah gunung api yang mengalami erupsi berupa letusan antara lain Anak Krakatau berupa sebanyak 232 kali, gunung api Ibu di Halmahera 1.705 kali, Dukono sebanyak empat kali letusan, Semeru sebanyak 637 kali, Merapi satu kali letusan, dan Kerinci pun satu kali letusan diikuti emisi abu.

Sementara yang mengalami guguran antara lain Gunung Merapi sebanyak 238 kali, Soputan sebanyak 254 kali dan Karangetang sebanyak 3.497 kali.
Memasuki Musim Hujan, PVMBG Waspadai Aktivitas 3 Gunung ApiGunung Merapi. (ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho)

Kendati begitu pada Oktober ini terjadi penurunan status dua gunung api yakni Soputan menjadi berstatus waspada (level II) dan Tangkuban Parahu yang kembali ke status normal (level I).

Secara umum data PVMBG menunjukkan terdapat 127 Gunung Api aktif. Jumlah ini merupakan yang terbanyak di dunia. Kalau ditotal, jalur gunung api ini mulai dari Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Banda, Halmahera hingga Sulawesi Utara sepanjang 7.000 kilometer.

"Yang jadi permasalahan adalah saat ini masih banyak orang tinggal di sekitar kawasan rawan bencana gunung api yakni sekitar 4 juta orang," ungkap Devy. (ika/ain)