"Enggak (perlu dievaluasi). Program deradikalisasi diperkuat saja. Karena dari sudut kuantitatif 2017 dan 2018 jauh lebih tinggi dari 2019. Artinya, tingkat antisipasi sudah oke, tapi sekarang terjadi perluasan subjek," kata Mahfud kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta pada Rabu (13/11).
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu menerangkan maksud perluasan subjek ialah terkait pola serangan terorisme yang dilakukan oleh para pelaku yang senantiasa berubah-ubah dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Puan mengatakan saat ini terjadi pergeseran metode yang dilakukan para pelaku bom bunuh diri di Indonesia, tak lagi secara berkelompok tapi sendirian.
Ia menyarankan BNPT dan pihak lain seperti kepolisian dan TNI untuk terus mewaspadai. Terlebih lagi, kata dia, aksi tersebut dilakukan di markas kepolisian yang seharusnya dinilai aman dari gangguan keamanan dan terorisme.
Pencegahan Dini Tak Efektif
Sementara itu Ketua Komisi I DPR Meutya Hafid menyatakan bahwa aksi bom bunuh diri Mapolrestabes Medan, Sumatera Utara merupakan bukti bahwa pencegahan dini dalam menangkal aksi terorisme tidak berjalan efektif.
Menurutnya, pencegahan dini seperti pendekatan lewat pendidikan budaya terhadap anak muda, seharusnya digalakkan, mengingat pelaku bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan masih berusia sekitar 24 tahun.
"Saya menyayangkan bahwa hari ini harus sampai terjadi demikian, cegah dini kita tidak efektif untuk menangkalnya," kata Meutya.
[Gambas:Video CNN]
Politikus Partai Golkar itu mengaku menyadari bahwa perang melawan terorisme merupakan hal yang cukup kompleks. Namun, menurutnya, perang terhadap terorisme tidak bisa hanya dilakukan lewat langkah-langkah penegakan hukum.
"Makanya, kita selalu sampaikan selain penegakkan hukum, harus ada pendekatan pendidikan kultural terhadap anak-anak muda kita," kaya Meutya.
Lebih dari itu, dia juga menyoroti kinerja Badan Intelijen Negara (BIN). Menurutnya, BIN kecolongan mengantisipasi insiden ini.
"Kalau kita bilang BIN tidak salah, salah juga untuk memberikan pernyataan demikian, tapi kalau sudah efektif atau belum, yang ditangani juga banyak," ucapnya. (mts/asa)