Polisi Dua Kali Geledah Rumah Guru Mengaji Terkait Bom Medan

Antara, CNN Indonesia | Kamis, 14/11/2019 17:53 WIB
Polisi Dua Kali Geledah Rumah Guru Mengaji Terkait Bom Medan Polisi mendatangi sebuah rumah di Medan yang diduga milik terduga pelaku pembom di Medan, kemarin. (CNN Indonesia/FNR)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tim Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Inafis) Polda Sumatera Utara melakukan penggeledahan di rumah SA, yang merupakan guru mengaji terduga pelaku bom bunuh diri di Maplrestabes Medan, RMN, di Jalan Serdang, Medan, Sumatera Utara, Kamis (14/11).

Usai penggeledahan selama kurang lebih 1 jam, tim membawa sejumlah barang dari rumah tersebut.

Dikutip dari Antara, barang-barang itu tampak berupa satu kardus yang berisi barang-barang yang dibalut plastik berwarna hitam.

Saat ini tim telah meninggalkan rumah SA. Sementara sejumlah petugas keamanan masih melakukan penjagaan di sekitar rumah itu.

Penggeledahan di rumah SA ini bukan yang pertama kalinya. Pada Rabu (13/11) malam, tim gabungan juga melakukan penggeledahan dan mengamankan sejumlah barang, di antaranya adalah sembilan buah pipa.


Wakapolda Sumut Brigjen Mardiaz Kusin Dwihananto menyebut pihaknya mengejar pelaku lain bom Medan.Wakapolda Sumut Brigjen Mardiaz Kusin Dwihananto menyebut pihaknya mengejar pelaku lain bom Medan. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Saat itu, petugas gabungan TNI-Polri melakukan penjagaan ketat di lokasi dan memasang garis polisi.

Sebelumnya, polisi mengejar terduga pelaku lain peledakan di Mapolrestabes Medan selain RMN.

"Saat ini kita masih mengejar sosok yang disebut imam-nya. Kita sudah mengantongi identitasnya," kata Wakapolda Sumatera Utara Mardiaz Kusin Dwihananto di RS Bhayangkara Medan, Rabu (13/11) malam.

Informasi dihimpun, pimpinan pengajian tersebut berinisial SA warga Jalan Serdang, Kelurahan Belawan I, Kecamatan Medan Belawan, Medan Sumatera Utara.

"Iya ini rumah dia (SA), kenal aku ini orangnya. Tadi malam juga ada digeledah rumahnya ini. Banyaklah polisi yang datang tadi malam," ujar seorang warga bernama Ina

Berdasarkan keterangan Kepala Lingkungan V Kelurahan Belawan I, Indah Pratiwi, SA dan keluarganya sangat tertutup.

Polisi merilis foto dan identitas terduga pelaku bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan berinisial RMN.Polisi merilis foto dan identitas terduga pelaku bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan berinisial RMN. (CNN Indonesia/Patricia Diah Ayu Saraswati)
"Mereka tertutup, mereka selalu tutup pintu, enggak mau bersosialisasi sama warga. Tapi kalau saya yang datang, tanya, mereka mau jawab. Tapi untuk sosialisasi enggak mau," katanya.

Pascaperistiwa bom bunuh diri, lanjutnya, SA dan keluarga tidak terlihat di rumah itu.

"Pagi masih ada. Sekitar siang jam satu atau jam dua tidak ada lagi," ujarnya.

Terpisah, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD menyatakan kepolisian telah menangkap delapan orang terkait bom bunuh diri itu.

"[Saya] sudah dapat laporan biar dijelaskan oleh Polri. Sudah ada yang ditangkap, delapan [orang]," ujar dia, di kantornya, Jakarta, Kamis (14/11).

Mahfud tidak menjelaskan secara rinci siapa saja pihak yang ditangkap pasca-kejadian itu. Dia juga tak berkomentar soal jaringan teroris yang bertanggungjawab dalam aksi tersebut.

[Gambas:Video CNN]
Sementara, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meminta masyarakat untuk tak mengaitkan aksi teror bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan itu dengan ajaran agama tertentu. Baginya, tak ada satupun agama yang mengajarkan keburukan dan membahayakan nyawa orang lain.

"Tidak perlu mengaitkan aksi teror yang sudah terjadi ini dengan kegiatan agama, karena faham terorisme sama sekali tidak terkait dengan ajaran agama mana pun. Saya yakin semua agama pada dasarnya mengajarkan tentang kebaikan, kasih sayang, dan kedamaian antara sesama umat manusia," kata Khofifah melalui keterangan tertulisnya, yang diterima CNNIndonesia.com, Kamis (14/11).

Khofifah yakin, pelaku pengeboman adalah bagian dari kelompok atau jaringan teroris tertentu. Karenanya, ia pun meminta aparat kepolisian Polda Jatim dan Seluruh Polres se-Jawa Timur untuk memperketat pengamanan di objek-objek vital maupun area pelayanan publik.

(jps/frd/arh)