Di Komisi III DPR, Kapolri Baru Dicecar Kasus Novel Baswedan

CNN Indonesia | Rabu, 20/11/2019 18:05 WIB
Di Komisi III DPR, Kapolri Baru Dicecar Kasus Novel Baswedan Kapolri Idham Azis. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kapolri Jenderal Idham Azis dihujani pertanyaan soal pengungkapan kasus penyiraman penyidik KPK Novel Baswedan saat menghadiri Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi III DPR pada hari ini, Rabu (20/11).

Anggota Komisi III dari berbagai fraksi bertanya mengapa Polri tak kunjung berhasil mengungkap.

Mulanya, Idham memaparkan apa saja yang sudah dilakukan kepolisian sejauh ini. Dia mengklaim sudah bersinergi dengan banyak pihak dalam mengungkap kasus Novel.


"Kami juga berkoordinasi dengan pihak eksternal, seperti KPK, Kompolnas, Komnas HAM, Ombudsman, dan para pakar profesional," kata Idham.

Polri, kata Idham, telah melakukan pemeriksaan terhadap 73 saksi, pemeriksaan 78 titik CCTV, dan berkoordinasi dengan Kepolisian Australia atau AFP untuk menganalisis rekaman CCTV di sekitar lokasi.

Dilakukan pula pemeriksaan daftar tamu hotel serta kontrakan dan kamar kos sekitar tempat kejadian perkara (TKP), serta pemeriksaan terhadap 114 toko kimia yang berada di radius 1 km dari tempat kejadian perkara.

"Rekonstruksi wajah yang diduga pelaku, mengamankan tiga orang saksi yang dicurigai, dan memeriksa alibi dengan hasil tidak terbukti. Mempublikasikan sketsa wajah dan mencari orang yang diduga pelaku membuka media hotline 24 jam dan menindaklanjuti informasi yang masuk," kata dia.
Idham mengatakan bahwa memang ada kasus yang membutuhkan waktu untuk mengungkapnya. Dia memberi contoh kasus pembunuhan mahasiswa Universitas Indonesia, Akseyna yang belum terungkap sejak 26 Maret 2015.

"Memang ada kasus yang sulit diungkap dan butuh waktu yang lama," imbuhnya.

Tak ada yang baru dari penuturan Idham. Perkembangan kasus Novel masih sama seperti saat Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian masih menjabat sebagai Kapolri.

Mendengar penjelasan Idham, Anggota Komisi III DPR Fraksi Demokrat Benny Kabur Harman seolah tak percaya Kepolisian tak mampu mengungkap kasus Novel. Menurutnya, Polri pasti sudah tahu namun enggan menangkap terduga pelaku penyiraman Novel.

"Saya yakin Pak Kapolri tahu lah pelakunya, tinggal ada kemauan lah untuk menangkapnya," kata dia.
Benny lalu membandingkan sikap Polri dalam kasus Novel dengan ledakan bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan pekan lalu. Benny menyatakan bahwa Polri begitu cepat menangkap jaringan teroris yang berkaitan dengan ledakan tersebut. Namun, berbeda dengan pengusutan kasus Novel.

"Takutnya ini jadi utang politik, utang hukum presiden Jokowi, mohon sungguh-sungguh untuk mengungkapkan pelakunya," kata Benny.

Tak Percaya Polisi

Anggota Komisi III DPR Fraksi PPP Arsul Sani menilai kasus Novel bisa membebani Polri jika tak lekas diselesaikan. Dampak buruk lainnya, masyarakat jadi tidak percaya dengan Kepolisian.

Arsul berharap Idham dan Polri terus bekerja untuk mengungkap kasus penyiraman air keras terhadap Novel. Dia juga ingin Polri memberikan informasi perkembangan terkini kasus tersebut.

"Kami berharap ada progres yang bisa di-update ke Komisi III secara terus-menerus, ya kalau belum ada progresnya ini jadi atensi khusus Kapolri," kata dia.
[Gambas:Video CNN]
Idham berusaha memberikan jawaban memuaskan atas tanggapan-tanggapan dari anggota Komisi III DPR yang menyoroti kasus Novel. Dia menegaskan bakal terus berupaya maksimal melakukan pengusutan.

Idham juga mengklaim telah ada temuan baru. Karenanya, dalam waktu dekat akan ada perkembangan positif terkait pengungkapan kasus Novel.

"Sehingga kita bisa secepatnya mengungkap. Kebetulan saya masih Kabareskrim, belum ada pengganti saya, masih di proses, sehingga saya yakinkan kita terus bekerja dan bekerja," kata Idham.
(rzr)