"Tahun 2020 menurut BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, Geofisika) Insyaallah tidak akan terjadi perubahan iklim yang ekstrem. Insyaallah [karhutla] lebih mudah diantisipasi," ujarnya di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Gatot Soebroto, Jakarta Pusat pada Jumat (6/12).
Lihat juga:BMKG Catat Ribuan Titik Panas Turun Drastis |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski begitu, Mahfud menggarisbawahi sejumlah wilayah yang rawan karhutla. Misalnya, Aceh, Riau, dan Sumatera Barat.
Foto: Screenshot via web BNPB |
"Serta ruang terbuka yang membuka kemungkinan orang menjadikan lahan sebagai tempat untuk membakar," tutur Menkopolhukam.
Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan KLHK Raffles Brotestes Panjaitan mengatakan pemerintah daerah jadi kunci penanganan karhutla. Melalui Kesatuan Pengelola Hutan misalnya.
Ia juga menyebut masalah dana harus dimaksimalkan untuk mengantisipasi karhutla.
"Kemudian pendanaan, jadi daerah harus menyiapkan dana di samping dana desa dari APBD-nya," tambahnya.
[Gambas:Video CNN]
Diketahui, pemerintah menyebut iklim ekstrem membuat karhutla 2019 sulit dipadamkan. Aparat terkait pun sempat bergantung pada turunnya hujan terkait pemadaman karhutla di lahan gambut. Hingga November, kebakaran masih terjadi di sejumlah wilayah.
Terlepas dari itu, Mahfud mengklaim penanganan karhutla di Indonesia tahun ini masih lebih baik ketimbang negara-negara lain.
"Kami bersyukur [karhutla] tahun 2019 tertangani dengan baik, apalagi jika dibandingkan dengan negara-negara yang juga punya masalah dengan kebakaran hutan dan lahan. Indonesia terhitung yang paling aman, meskipun kita masih merasakan di sana-sini ada," tuturnya, tanpa merinci negara-negara yang jadi pembanding itu.
(fey/arh)
Foto: Screenshot via web BNPB