SBY: Politik Identitas di Pemilu 2019 Melebihi Takaran

CNN Indonesia | Rabu, 11/12/2019 19:52 WIB
SBY: Politik Identitas di Pemilu 2019 Melebihi Takaran Ketum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono.( CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono menilai tahun 2019 merupakan tahun yang penuh dinamika dan ujian. Tahun 2019, kata SBY telah memberikan pengalaman dan pelajaran berharga bagi bangsa Indonesia.

"Di tahun ini, rakyat kita baru saja mengikuti pemilihan umum. Banyak hal baru yang kita dapatkan, baik yang positif maupun yang negatif. Yang baik maupun yang buruk," kata SBY saat berpidato soal Refleksi Pergantian Tahun 2019 di Jakarta Convention Center, Selasa (11/12).

SBY menjelaskan hal yang buruk selama 2019 adalah Pemilu yang diwarnai oleh politik identitas yang melebihi takarannya.


"Juga pertama kali terjadi banyak korban jiwa, baik karena kekerasan maupun bukan," katanya.
Sedangkan, kabar baik di 2019 adalah, ketika bangsa Indonesia berada di ambang perpecahan dan bahkan benturan fisik pasca pemungutan suara, semua sadar dan terpanggil.

"Terpanggil untuk menahan diri dan tetap menjaga keutuhan kita. Alhamdulillah, mimpi buruk itu tidak terjadi. Kita memilih persatuan, bukan perpecahan," katanya.

Sebab itu, SBY berharap ada evaluasi menyeluruh tentang sistem, undang-undang dan penyelenggaraan pemilu. Terutama bagi pihak pemerintah, parlemen dan penyelenggara pemilu. Tujuannya, pemilu di masa mendatang bisa berlangsung lebih baik.

"Yang sudah baik kita pertahankan, yang belum baik kita perbaiki. Itulah harapan Partai Demokrat. Saya yakin itu pula harapan rakyat kita," katanya.

Kata SBY, Pemilihan umum yang merupakan sebuah kontestasi politik untuk sebuah kekuasaan, telah usai. Sementara, pemilu mendatang masih jauh, lima tahun lagi.

"Tak baik dan malu kepada rakyat, kalau saat ini kita memulai lagi kontestasi baru. Apalagi jika semangat dan nafsunya adalah untuk mendapatkan kekuasaan di tahun 2024," katanya, "Mari hormati pemerintah kita, dan tentunya rakyat kita."

Menurut SBY, Partai Demokrat berpendapat, saatnya untuk menghentikan suasana permusuhan. "Saatnya kita menghentikan politik yang membelah dan memisahkan. Saatnya pula, kita kembali membangun hubungan antar kekuatan politik yang lebih damai dan menyatukan," katanya.

Hubungan yang bernuansa kawan dan lawan, kata SBY, harus diganti dengan hubungan antarmitra. Kemitraan untuk membangun bangsa. Kemitraan dan kebersamaan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi rakyat.

"Rakyat menghormati negara dan pemimpinnya. Negara dan pemimpin sabar dan mengayomi rakyat dengan adil dan penuh rasa kasih sayang. Bersatu kita teguh. Bersama kita lebih kuat. Together we are stronger," katanya.
(tst/ugo)