Penjelasan tersebut dikatakan Nadiem di akhir rapat, karena merasa ada kesalahpahaman mengenai perbedaan antara keduanya.
"Sepertinya ada kebingungan antara USBN dan UN itu apa. USBN itu adalah tes kelulusan, UN selama berapa tahun dari 2015 bukan penentu kelulusan," tutur Nadiem dalam rapat di Kompleks DPR/MPR, Gatot Soebroto, Jakarta Selatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keduanya, kata Nadiem akan diubah dalam kebijakan barunya. USBN akan digelar dan dibuat oleh sekolah dan disebut Ujian Sekolah. Sedangkan UN akan diganti menjadi Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter.
"Artinya 100 persen kedaulatan [USBN] oleh sekolah tapi mengikut standar nasional. Apa standar nasional? Kurikulum 2013, dan standar kelulusan [juga] kurikulum 2013," tuturnya kepada wartawan.
Banyak Sekolah "Nakal" Tapi Inovatif untuk Jadi Contoh
Menurut Nadiem, keempat inovasi yang akan diimplementasikan dalam kebijakan barunya itu sebenarnya sudah diterapkan di sejumlah sekolah.
Menteri Pendidikan Kebudayaan dan Pendidikan Tinggi Nadiem Makarim. (Foto: CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono) |
"Karena di ribuan sekolah sudah ada contoh. Tapi nggak berani keluar. Karena mungkin menyalahi aturan. Banyak sekolah dalam tanda kurung nakal tapi inovatif. Ini bisa jadi pelajaran," tuturnya kepada Komisi X.
Dengan itu Nadiem pun mengajak sekolah-sekolah tersebut untuk memamerkan inovasi mereka ke publik melalui media sosial, agar bisa jadi contoh untuk sekolah lainnya.
Ada empat kebijakan baru yang diumumkan Nadiem pada rapat koordinasi bersama Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Indonesia di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Rabu (11/12).
Yakni mengenai perubahan UN dan USBN, pelonggaran sistem zonasi dan peringkasan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
Mengenai UN, penyelenggaraannya akan diganti dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter pada pertengahan jenjang sekolah. Sedangkan USBN akan digelar dan dibuat oleh pihak sekolah. (fey/rea)
Menteri Pendidikan Kebudayaan dan Pendidikan Tinggi Nadiem Makarim. (Foto: CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)