Menurutnya, UN menjadi beban bagi siswa, guru, dan orangtua karena menjadi indikator keberhasilan siswa sebagai individu. Padahal, lanjut dia, UN seharusnya berfungsi memetakan mutu sistem pendidikan nasional, bukan penilaian siswa
Lihat juga:Jokowi Dukung Nadiem Hapus Ujian Nasional |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selanjutnya, kata eks bos Gojek itu, UN hanya menilai aspek kognitif dari hasil belajar dan belum menyentuh karakter siswa secara menyeluruh.
"Mohon jangan pernah meremehkan guru itu yang pertama. Jangan pernah meremehkan guru," katanya.
Nadiem menambahkan setiap guru dalam mengajar harus selalu diawali dengan proses refleksi. Menurutnya, proses tersebut tidak memandang kompetensi guru yang rendah atau tinggi.
Nadiem menganggap kualitas guru yang rendah sehingga UN harus dipertahankan bukan sebuah alasan yang bisa dibenarkan. Jika guru tak berkualitas pun, menurutnya, proses perbaikan terhadap interpretasi standar pendidikan nasional tetap harus dilakukan.
"Jadinya mau guru hebat atau tidak terlalu hebat, semua harus melalui proses ini. Sehingga pembelajaran real bisa terjadi," ujar Nadiem.
[Gambas:Video CNN]
Nadiem sebelumnya mengumumkan UN akan dihapus pada 2021 mendatang. Dia menyebut ujian nasional yang selama ini menjadi salah satu standar kelulusan siswa akan dilaksanakan terakhir kali pada 2020.
Ada beberapa pertimbangan untuk mengganti sistem Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Hal yang paling utama, kata Nadiem, karena ujian nasional selama ini dinilai banyak bermasalah.
"Penyelenggaraan UN tahun 2021 akan diubah menjadi asesmen kompetensi minimum dan survei karakter yang terdiri dari kemampuan bernalar menggunakan bahasa (literasi), kemampuan bernalar menggunakan matematika (numerasi), dan penguatan pendidikan karakter," kata Nadiem. (mts/wis)