Rusaknya habitat serta semakin luasnya perambahan di dalam hutan lindung menjadi penyebab-penyebab lain yang membuat harimau semakin terdesak di habitatnya sendiri.
Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan Martialis Puspito mengatakan, saat ini populasi satwa liar yang berada di kawasan hutan lindung di Kesatuan Pengelola Hutan (KHP) Dempo dan Kikim Pasemah semakin berkurang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pada 2016, kita menemukan tujuh offset kepala kambing hutan yang sudah diawetkan di Desa Rimba Candi. Di Pagar Alam setiap minggu ada perburuan babi hutan. Itu yang kita temukan, yang tidak ketahuannya banyak," ujar Ito, Jumat (13/12).
Selain perburuan, perambahan liar yang dilakukan masyarakat pun membuat harimau semakin terdesak. Kawasan hutan lindung yang berfungsi sebagai habitat satwa liar, berubah menjadi perkebunan dengan segala perusakan yang dilakukan oleh manusia.
Selain itu, pihaknya pun belum bisa mengidentifikasi apakah individu harimau tersebut mengalami cedera psikologis atau tidak. Dirinya berujar, bisa jadi harimau tersebut pernah memiliki sejarah terkena jerat atau terluka sehingga perangainya menjadi lebih agresif.
"Kita pasang kamera trap di lokasi jatuh korban tewas pertama di Desa Pulau Panas, Lahat itu, belum ada hasilnya. Kamera tidak menangkap penampakan harimau. Yang di Dempo juga belum ada hasil," ujar Ito.
Pihaknya pun telah memberikan saran kepada Pemerintah Kota Pagar Alam untuk mengevaluasi tata kelola kawasan wisata di sekitar KPH Dempo. Saat ini, banyak objek wisata yang berada di dalam kawasan hutan yang merupakan habitat harimau.
Seperti Tugu Rimau, jalur evakuasi di Gunung Dempo yang banyak dijadikan sebagai jalur pendakian, di mana banyak bangunan semipermanen yang dimanfaatkan sebagai warung. Peringatan bahwa kawasan tersebut merupakan koridor jelajah harimau pun tidak dihiraukan oleh masyarakat.
Sementara itu, Kapolres Lahat Ajun Komisaris Besar Ferry Harahap mengimbau kepada masyarakat untuk tidak terus melakukan perambahan di hutan lindung karena akan merusak hutan dan membuat harimau semakin agresif.
"Kami yakin masih banyak masyarakat yang merambah hutan lindung dan menjadikan kebun kopi. Ini semua terjadi dimulai dari ketidakpatuhan kita terhadap aturan dan alam dengan merusak habitat satwa liar," ujar dia.
[Gambas:Video CNN]
Ferry berujar, tiga peristiwa konflik harimau dengan manusia yang menelan korban di Lahat dan Pagar Alam seluruhnya terjadi di hutan lindung yang merupakan habitat harimau. Berdasarkan hasil olah TKP pun pihaknya mendapatkan bukti adanya perusakan hutan lindung dengan merambah hutan untuk dijadikan kebun kopi.
Ke depan, pihaknya bersama BKSDA terus melakukan sosialisasi dan edukasi terhadap masyarakat agar tidak melakukan aktivitas di dalam hutan lindung. Pihaknya pun sosialisasi bahwa masyarakat dilarang untuk melukai, membunuh, atau bahkan dengan sengaja memburu harimau.
"Kecuali dalam kondisi terdesak untuk melindungi nyawa, boleh untuk dilumpuhkan. Tapi kalau tidak, kita melanggar hukum dan dapat dituntut sanksi pidana. Kita akan bersinergi dengan pemerintah dan semua pihak untuk menyelesaikan permasalahan ini," kata Ferry. (idz/rea)