Hal tersebut diutarakan Ramli merespons ucapan Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kemendikbud Ade Erlangga mengenai alokasi anggaran Ujian Nasional (UN) yang akan dialihkan untuk pembangunan infrastruktur.
"Sangat tampak bahwa anggaran tersebut betul-betul hanya diarahkan pada kegiatan-kegiatan yang bersifat proyek. Dan sama sekali tidak ada pikiran untuk berupaya mengembalikan anggaran itu ke negara, untuk dialokasikan untuk pengangkatan guru yang saat ini 52 persen sudah berstatus non PNS," tutur Ramli melalui keterangan pers yang diterima CNNIndonesia.com, Senin (16/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika nafsu Kemendikbud ini tidak berubah, maka jangan pernah berharap pendidikan kita lebih baik. Bagaimana pun guru adalah prasyarat pendidikan," ujar Ramli.
"Sarana dan prasarana tidak akan banyak bermanfaat. Bahkan kurikulum yang baik pun tidak akan mampu membuat pendidikan lebih baik," tambahnya.
"Kemendikbud mestinya lebih berpikir bagaimana mencukupkan guru-guru pada sekolah-sekolah yang saat ini sudah ada. Dibanding berpikir membangun sekolah baru atau membangun ruang kelas baru. Karena pada akhirnya ruang kelas tersebut hanya diisi oleh guru-guru yang tidak jelas statusnya, tidak jelas pendapatannya dan tidak jelas rekrutmennya," jelasnya.
Bangunan sekolah rusak memang salah satu persoalan dalam dunia pendidikan saat ini. Ada cukup banyak kejadian bangunan sekolah runtuh saat proses belajar mengajar. Yang terbaru terjadi di SD Gentong, Pasuruan, Jawa Timur.
Bangunan dan atap sekolah SDN Gentong ambruk saat jam pelajaran siswa, sekitar pukul 08.15 WIB, Selasa (15/11) pagi. Akibatnya dua orang dinyatakan meninggal dunia, 11 orang luka-luka.
Sebelumnya pada Rapat Kerja bersama Komisi X DPR RI, Nadiem mengatakan Kemendikbud tengah mengkaji kebijakan rotasi guru ke sekolah yang lebih membutuhkan.
[Gambas:Video CNN]
"Kenyataannya guru banyak bergerombol di sekolah yang orang tuanya mapan. Ini tidak boleh. Kepala dinas saya minta secara tegas untuk retribusi, memberikan guru-guru kepada sekolah-sekolah kekurangan," jelasnya di Kompleks DPR/MPR, Gatot Soebroto, Jakarta Selatan pada Kamis (12/12).
Untuk teknis dan implementasinya masih dikaji lebih lanjut. Nadiem mengatakan bisa jadi guru diberi penghargaan lebih jika mau ditempatkan di sekolah yang lebih membutuhkan. (fey/wis)