Surya Anta Orasi dan Menangis: Apakah Reformasi Sudah Mundur?

CNN Indonesia | Kamis, 19/12/2019 21:01 WIB
Surya Anta bersama lima terdakwa lain melakukan orasi sambil menangis usai didakwa makar dan pemufakatan jahat oleh Jaksa dalam sidang perdana di PN Jakpus. Surya Anta cs didakwa jaksa melakukan makar dan pemufakatan jahat. (CNN Indonesia/Michael Josua Stefanus).
Jakarta, CNN Indonesia -- Enam aktivis Papua, Surya Anta cs menjalani sidang dakwaan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (19/12). Seusai sidang, Surya Anta dan terdakwa lainnya melakukan orasi dan menangis.

"Orang-orang yang berbicara tentang kemanusiaan dibungkam, apabila lebih dari 20 tahun reformasi kita masih dibungkam, kita harus bertanya kepada diri kita, apakah zaman kolonialisme, zaman fasisme, zaman orde baru atau zaman reformasi, apakah reformasi sudah mundur?" kata Surya.

Dalam orasinya, Surya dan beberapa terdakwa lainnya sempat meneteskan air mata. Namun Surya tetap melanjutkan orasinya meski sesenggukan.


Menurut dia, sebagai manusia dan bangsa, menjadi beradab karena nilai-nilai kemanusiaan dalam hati dan tindakan.

"Kalau nilai-nilai kemanusiaan tidak ada lagi dalam hati dan tindakan, karena kita takut bicara, meskipun kita berbicara secara damai, sebab di belakang kita ada pasal makar, ada senjata, ada penjara, ada ruang untuk isolasi," ujar Surya.

"Lalu besok kita akan lihat, orang-orang hitam yang keriting, orang minoritas, orang kuning bermata sipit, orang-orang miskin, tidak lagi ada yang membela," kata dia yang disambut teriakan massa yang hadir dalam persidangan.

Diketahui enam terdakwa Surya Anta beserta Issay Wenda, Arina Elopere, Charles kossay, Ambrosius Mulait, dan Dano Tabuni didakwa melakukan makar dan pemufakatan jahat lantaran mengibarkan bendera bintang kejora di seberang Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, pada pertengahan tahun ini.

[Gambas:Video CNN]
Ajukan Eksepsi

Adapun usai sidang dakwaan, Surya cs bakal mengajukan eksepsi karena keberatan dengan dakwaan Jaksa. Majelis hakim menunda sidang pada Kamis 2 Januari 2020 mendatang.

"Jadi untuk eksepsi supaya bersama-sama, sidang ditunda Kamis, 2 Januari 2020," kata Ketua Majelis Hakim Agustinus Setya Wahyu Triwiranto.

Jaksa sendiri mendakwa Surya Anta dkk melakukan makar dan pemufakatan jahat. Jaksa menilai perbuatan yang dilakukan keenam terdakwa bertujuan untuk memisahkan Papua dan Papua Barat dari NKRI.

Sebelum melakukan makar, Jaksa juga menilai keenamnya melakukan pemufakatan jahat untuk merencanakan makar.

Surya sempat memberi tanggapan usai mendengar dakwaan Jaksa. Dia mempertanyakan jeratan makar kepadanya.

"Secara spesifik dan khusus, apakah kehadiran saya dalam aksi adalah bentuk makar? Selama saya menjadi aktivis, aksi adalah hak. Menuntut sesuatu kepada negara adalah hak konstitusional," kata Surya. (yoa/osc)