Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta Juaini menyatakan pihaknya sudah melakukan pengerukan sejak Juni 2019. Namun, pelebaran Sungai Ciliwung masih jalan di tempat karena terkendala pembebasan lahan hingga 2020.
Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) Bambang Hidayah mengakui belum bisa merampungkan normalisasi sungai Ciliwung-Cisedane hingga 100 persen. Saat pembebasan lahan terkendala, kata dia, justru terjadi penyempitan luas sungai meskipun pengerukan masih dilakukan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari data BBWSCC, panjang Sungai Ciliwung di wilayah DKI Jakarta yang rencananya dilakukan normalisasi adalah 19,9 kilometer. Sementara rencana pembuatan tanggul mencapai 33,69 kilometer.
"Sekarang masih ada [warga yang tinggal di pinggiran Ciliwung], makanya susah membebaskan lahan. Mereka [warga] merasa sungai itu karunia Tuhan. Makanya kami khawatir kalau banjir bandang kan mereka bisa hanyut, karena bangunannya semipermanen. Padahal, sudah ada rusunawa yang tempatnya jauh lebih layak, eh tapi malah merasa lebih nyaman disana," kata dia.
Untuk rencana normalisasi Sungai Ciliwung tersebut lahan yang dibutuhkan di wilayah DKI Jakarta secara keseluruhan mencapai 46,47 hektare, namun yang sudah dibebaskan baru 16,04 hektare.
[Gambas:Video CNN]
Selain pembebasan lahan, Bambang mengatakan BBWSCC juga mempertimbangkan aspek kemanusiaan. Bambang menyebut hunian warga tak hanya rawan hanyut saat banjir, tapi juga tercemar limbah domestik.
Sedangkan untuk solusi banjir, Bambang mengatakan BBWSCC juga menyiagakan Satuan Tugas (Satgas) Banjir.
"Tidak hanya Satgas Banjir, pengecekan pompa air, mobil PAM, dump truck, dan karung-karung juga kami siagakan," kata dia.