Mahfud mengatakan hanya membahas soal soal kerja sama alat utama sistem pertahanan secara umum saat berbincang dengan Lyudmila di Kantor Kemenkopolhukam, Jakarta.
"Ya masalah kerja sama di bidang alutsista disinggung juga, tapi kami tidak mengambil keputusan karena nanti berkait dengan banyak hal," ujar Mahfud di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Jumat (20/19).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski bungkam soal Sukhoi, Mahfud membeberkan kedatangan Lyudmila ke Kemenko Polhukam adalah dalam rangka kunjungan kehormatan. Selain bicara alutsista, dia mengaku berdiskusi tentang kerja sama yang bisa dilakukan Indonesia dengan Rusia.
Dia menyebut Indonesia dengan Rusia memilki banyak kerja sama sejak dahulu, misalnya di bidang pertahanan kawasan hingga sosial. Lebih lanjut, mantan Ketua MK itu juga mengaku sempat membahas perihal kunjungan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Indonesia dalam rangka 70 tahun kerja sama diplomatik Indonesia-Rusia.
Selain itu, Mahfud berkata bakal berkunjung ke Rusia bertemu dengan Ketua Dewan Keamanan Federasi Rusia. Seperti Menko Polhukam, dia menyebut Ketua Dewan Keamanan Federasi Rusia membawahi menteri yang menjabat di bidang kemanan dan pertahanan.
"Itu sudah pertemuan rutin setiap tahun. Nanti juga akan dijadwalkan," ujar Mahfud.
Mahfud juga mengaku telah meminta pemerintah Rusia untuk menambah beasiswa bagi pelajar Indonesia agar bisa sekolah atau kuliah di Rusia. Dia menyebut Lyudmila menyampaikan pemerintah Rusia mempertimbangkan bakal memberikan seribu beasiswa bagi warga Indonesia.
"Mulai tahun depan dipertimbangkan akan dapat seribu pelajar Indonesia yang mau belajar ke perguruan tinggi di sana dan ke berbagai level. Di sana perguruan tingginya itu masuk kelas dunia," ujarnya. (jps/ain)