Hari Ibu

Megawati 'Kesepian' di Dunia Politik

tim, CNN Indonesia | Minggu, 22/12/2019 17:00 WIB
Bertepatan dengan Hari Ibu, Presiden Indonesia kelima Megawati Soekarnoputri menyoroti kurangnya partisipasi perempuan di bidang politik. Bertepatan dengan Hari Ibu, Presiden Indonesia kelima Megawati Soekarnoputri menyoroti kurangnya partisipasi perempuan di bidang politik. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bertepatan dengan Hari Ibu, Presiden Indonesia kelima Megawati Soekarnoputri menyoroti kurangnya partisipasi perempuan di bidang politik. Politik yang dianggap tabu menjadi salah satu alasan rendahnya kaum perempuan yang berkecimpung di dunia politik.

"Saya merasa kesepian banyak yang tidak mau ke politik karena menurut mereka masuk politik itu tabu," kata Megawati dalam pidato di Perempuan Hebat Indonesia Maju yang digelar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Jakarta, Minggu (22/12).

Megawati mengatakan saat menjabat sebagai wakil presiden di era Gus Dur, pemerintah menetapkan kuota perempuan 30 persen di Parlemen. Namun, hingga saat ini kuota itu belum pernah tercapai.


"Apakah kita tidak sebaiknya memikirkan ulang karena kenapa 30 persen. Apakah kaum perempuannya sendiri sudah siap? Kenyataannya capaian itu masih sangat sulit," tutur Megawati yang juga menjadi Dewan Pengarah BPIP.

Menurut perempuan berusia 72 tahun itu, kehadiran perempuan di dunia politik penting untuk menjalankan tata pemerintahan. Perempuan diharapkan dapat membuat kebijakan yang mendukung kaum perempuan.

Megawati lalu mendorong kaum perempuan untuk dapat maju seperti dirinya yang pernah menjadi Presiden Indonesia.


"Saya sangat merindukan sekiranya  ada mulai perempuan yang berkeinginan untuk menjadi wakil presiden, untuk menjadi presiden, why not?" ujar Megawati.

Megawati juga meminta perempuan untuk saling mendukung, bukan menjatuhkan perempuan lain yang ingin maju.

Tidak hanya di bidang politik, Megawati juga ingin agar perempuan dapat memiliki karier yang tinggi di bidang militer. Dia mencontohkan saat zaman penjajahan, Indonesia pernah memiliki Laksmana Malahayati yang memimpin peperangan. Megawati pun ingin agar ada perempuan yang dapat menjadi Panglima TNI.


"Laksmana Malahayati saja bisa. Panglima TNI, why not? Apakah tidak boleh Panglima TNI kaum perempuan? Presiden saja bisa artinya ke bawahnya juga bisa," ungkap Megawati. (ptj/chs)