Aku & Jakarta

Jalan Sunyi Romo Hani dan Tangisan Ibu di Malam Natal

Aulia Bintang Pratama, CNN Indonesia | Kamis, 26/12/2019 19:13 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Romo Hani Rudi Hartoko SJ tak pernah menyangka bahwa dia akan menjadi seorang imam karena mimpi masa kecilnya dulu adalah menjadi pengacara atau politikus.

Namun dia mengatakan Tuhan tidak mengabulkan mimpinya tersebut dan malah mewujudkan doa saat dia masih kecil.

Saat kecil, kata Romo Hani, dia membuat doa yang mengatakan bahwa dia menyerahkan seluruh hidupnya untuk Tuhan.

Setelah lulus SMP, Romo Hani pun 'iseng' mendaftarkan diri ke sebuah seminari di Magelang bersama beberapa temannya.

Dia mengaku sebenarnya tidak terlalu berniat untuk mendaftarkan diri dan berharap ditolak, tapi setelah melalui proses seleksi dia malah diterima.

Pilihan Romo Hani untuk menjadi seorang imam tidak sepenuhnya didukung oleh keluarga, sang ayah memang memberi dukungan tapi sang ibu justru tidak setuju.

Sang ibu sering menangis saat anaknya harus kembali melanjutkan pendidikan dan melewatkan sejumlah momen yang seharusnya dilakukan bersama keluarga, seperti perayaan Natal dan Paskah.

Di momen persimpangan antara berhenti ikut pendidikan atau melanjutkan dan tak ada pilihan berhenti lagi, Romo Hani akhirnya mengumpulkan keluarga besarnya dan membicarakan soal niatnya menjadi seorang imam.

Saat itu dia menjelaskan bahwa jika memang keluarga tidak mengizinkan dia melanjutkan pendidikan maka dia akan berhenti, tapi jika keluarga memperbolehkan maka dia akan melanjutkan pendidikan.

Pernyataan tersebut akhirnya membuat keluarga, terutama sang ibu, merelakan Romo Hani untuk melanjutkan pendidikan dan memenuhi jalan hidup sebagai seorang imam.

Pada 2001, Romo Hani akhirnya ditahbiskan sebagai seorang imam dan ditugaskan di banyak paroki hingga pada 2016 menjadi Kepala Gereja Keuskupan Agung Jakarta.

Selama itu, Romo Hani mengaku sering merasa kesepian saat perayaan Natal karena tidak bisa menghabiskan waktu bersama keluarga.

Tugas sebagai pimpinan gereja membuat dia harus menghabiskan waktu Natal di gereja dan "merayakan" bersama umat yang datang ke gereja.

Namun rasa sepi itu malah dinikmati oleh Romo Hani karena itu adalah jalan hidup yang dia pilih dan dia harus menerima segala risikonya.

Dia pun selalu menyempatkan diri untuk pulang kampung dan merayakan Natal bersama keluarga setelah tugasnya di gereja selesai.