"Kita akan tunggu resmi. Status darurat itu punya konsekuensi yang tidak sederhana. Sebelum kita dengar resmi kita enggak akan komentar," ujar Anies usai meninjau titik banjir di kawasan Teluk Gong, Kelurahan Pejagalan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, Jumat (3/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, berbeda dengan Anies. Dia menilai banyak hal yang harus dipertimbangkan jika ingin menetapkan status tanggap darurat. Terlebih banjir di sejumlah wilayah saat ini telah surut.
"Sebenarnya bisa kita lihat tanggal 1, 2, 3 Januari itu mulai surut. Insyaallah nanti Sabtu-Minggu kita yakin jauh lebih sedikit tempat yang ada genangan, maka proses rehabilitasi bisa cepat," katanya.
[Gambas:Video CNN]
Dalam kunjungan ke titik banjir di kawasan Teluk Gong, Kelurahan Pejagalan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, Anies juga menyerahkan bantuan langsung kepada pengungsi menggunakan perahu karet.
Ia terjun langsung ke dalam air setinggi sekitar satu meter. Anies mengatakan, kawasan tersebut masih terendam banjir sejak 1 Januari 2020.
Mantan Mendikbud itu memastikan kebutuhan bagi para pengungsi telah tercukupi. Sementara ini warga di kawasan Teluk Gong mengungsi di gedung Yayasan Al Muhajirin dan di sekolah.
"Ini tempat paling ujung utara. Pesisir, selama air masih mengalir ke sini genangannya masih tinggi. Proses pemompaan di ujung itu bekerja terus untuk menarik air dari kawasan ini," ucap Anies.
BNPB menyatakan 62.443 penduduk Jakarta mengungsi akibat banjir yang melanda sejak Rabu lalu (1/1). Mereka tersebar di 302 titik pengungsian.
Terkait status tanggap darurat, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyarankan agar pemerintah daerah menggunakan pos anggaran belanja tak terduga (BTT) dalam APBD untuk mengatasi banjir di wilayah masing-masing.
BTT itu bisa digunakan jika pemda yang bersangkutan sudah menetapkan status tanggap darurat. Hal tersebut sudah dilakukan oleh Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi.
Lihat juga:Pengungsi Banjir Jakarta Capai 62 Ribu Warga |