Tak Kenal Pelaku, Novel Bantah Penyerangannya Dipicu Dendam

CNN Indonesia | Senin, 06/01/2020 23:52 WIB
Tak Kenal Pelaku, Novel Bantah Penyerangannya Dipicu Dendam Novel Baswedan ngotot penyerangannya tak bermotif dendam karena ia tak kenal dengan pelaku. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Novel Baswedan mengungkapkan dirinya tidak mengenal dua tersangka kasus penyiraman air keras yang ditangkap polisi beberapa waktu lalu, RM dan RB.

Kepada penyidik kepolisian, Novel juga menyebut bahwa dirinya tak pernah bertemu ataupun berkomunikasi dengan kedua tersangka. Atas dasar itu, Novel menilai tak masuk akal jika aksi penyiraman air keras tersebut berkaitan dengan urusan personel ataupun dendam pribadi.

"Tidak pernah berkomunikasi atau interaksi lainnya baik dalam berkaitan pribadi maupun dinas. Tentunya enggak masuk akal apabila itu adalah urusan personal," kata Novel di Polda Metro Jaya, Senin (6/1).


Berdasarkan fakta-fakta yang ada, Novel bahkan memastikan bahwa aksi penyiraman air keras terhadap dirinya berkaitan dengan profesinya selaku penyidik KPK.

Fakta-fakta tersebut merupakan hasil temuan dari Komnas HAM, tim gabungan pencari fakta, serta sejumlah pihak lain.

"Pokoknya ada dua hal penting, ini terkait dengan tugas-tugas saya melakukan penyidikan perkara korupsi dalam rangka melaksanakan tugas di KPK," tutur Novel.

"Dan yang kedua ini pelakunya bukan orang per orang yang inisiatif sendiri, baik satu dua orang atau apapun tapi suatu hal yang teroganisir," lanjutnya.

Novel menyatakan berani dipertemukan dengan dua tersangka tersebut. Novel juga menyampaikan dirinya juga tak mempermasalahkan jika nantinya penyidik bakal mengkonfrontir dirinya dengan dua tersangka.

"Kalau dipandang perlu, saya siap bertemu (tersangka penyerang air keras)," kata Novel.

Berbeda dengan Novel, Komisi Kepolisian Nasional justru menduga kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK tersebut bermotif dendam.

Anggota Kompolnas Yotje Mende mengatakan dendam bisa disebabkan banyak hal. Salah satunya, soal masalah kenaikan pangkat. Akan tetapi, dia berkata hal tersebut masih dalam sebatas dugaan.

"Mungkin bisa saja ke situ, kita belum tahu karena kita bukan pemeriksa mereka," ujarnya.

Ia juga tak yakin penyiraman air keras terhadap Novel melibatkan jenderal dan tokoh penting di kepolisian. Yotje menuturkan pihaknya menerima laporan bahwa penyiraman air keras ke wajah Novel bukan atas perintah dari atasan para pelaku yang merupakan personel Brimob Polri.

Dia berkata kedua pelaku secara inisiatif pribadi melakukan penyerangan tersebut.

"Untuk sementara ini hasil yang disampaikan ke Kompolnas tidak ada nama jenderal. Dan yang melakukan itu adalah oknum yang dendam terhadap Novel," ujar Yotje di Kantor Kemenkopolhukam, Jakarta, Senin (6/1).

Sebelumnya, Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Argo Yuwono juga menegaskan kepolisian tak pernah menyebut dendam pribadi sebagai motif yang mendasari pelaku kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan.

[Gambas:Video CNN]
"Kami belum pernah mengatakan itu. Dari kepolisian yang terpenting bahwa polisi itu bekerja bukan untuk menghakimi tapi membuktikan pelaku untuk dibawa ke penuntut umum untuk disidang," tuturnya di Mabes Polri, Jakarta Selatan pada Selasa (31/12).

Polisi telah menjerat dua tersangka dalam kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan dengan pasal pengeroyokan dan penganiayaan. Keduanya saat ini sedang menjalani masa penahanan untuk 20 hari ke depan.

Dua orang tersangka itu adalah anggota Polri aktif berinisial RM dan RB. Belum diketahui jelas motif dari kedua tersangka itu menyiram air keras terhadap Novel.

Saat dipindahkan dari Polda Metro Jaya ke Bareskrim Polri, Sabtu (28/12) lalu, salah satu tersangka mengatakan bahwa dirinya tidak menyukai Novel.

"Tolong dicatat. Saya tidak suka Novel karena dia pengkhianat," kata tersangka berinisial RB.

(dis/agt)