Nelayan Natuna Tolak Serbuan Ratusan Nelayan Pantura

CNN Indonesia | Minggu, 12/01/2020 14:19 WIB
Nelayan Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau menolak rencana mobilisasi ratusan nelayan Pantura di perairan Natuna Utara. Ilustrasi perairan Natuna. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kelompok nelayan Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau menolak rencana kedatangan ratusan nelayan Pantai Utara (Pantura) Jawa untuk melaut di perairan Natuna Utara.

Ketua nelayan Desa Sepempang, Natuna, Hendri mengungkapkan alasan penolakan salah satunya penggunaan alat tangkap cantrang yang digunakan oleh nelayan Pantura

"Alat tangkap cantrang dapat merusak ikan dan biota laut lainnya, sehingga akan merugikan nelayan itu sendiri," kata Hendri seperti dikutip dari Antara, Minggu (12/1).


Selain itu, nelayan pantura menggunakan kapal yang lebih besar dan peralatan tangkap modern. Hal ini membuat nelayan lokal sulit bersaing mengingat peralatan yang digunakan masih tradisional yaitu pancing ulur.

"Kondisi ini juga akan menyebabkan nelayan lokal jauh tertinggal dan tersisih," imbuhnya.

Alih-alih mendatangkan nelayan Pantura, Ketua nelayan Desa Batu Gajah, Natuna, Kurniawan Sindro Utomo meminta Pemkab Natuna maupun pemerintah pusah memberdayakan nelayan setempat.

Menurut dia, nelayan setempat mampu melaut hingga ke Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) asal didukung dengan kapal-kapal dan peralatan yang memadai.

"Pemerintah sebaiknya membantu nelayan Natuna dengan kapal di atas 50 GT, bukan malah mendatangkan nelayan pantura," tuturnya.

Sementara itu, Nelayan Natuna Khairul Anam mengaku khawatir jika pemerintah tetap mendatangkan nelayan pantura ke Natuna, maka dapat menimbulkan gesekan antara kedua belah pihak nelayan.

"Konflik Indonesia dan China mulai mereda di laut Natuna. Jangan sampai nanti ada pula konflik lanjutan antara nelayan Natuna dan nelayan pantura," ucapnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Mahfud MD menyatakan pemerintah akan memobilisasi 470 nelayan dan sejumlah kapal ikan dari Jawa menuju perairan Natuna Utara. Hal itu dilakukan untuk mempertahankan Natuna sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Untuk mendukung rencana tersebut, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan berencana memindahkan lokasi pangkalan ikan di Natuna dari selatan menjadi ke utara.

Dihubungi terpisah, Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Zulficar Mochtar menyatakan belum menerima permohonan resmi dari nelayan Pantura untuk menangkap ikan di Natuna.

"Secara formal belum ada dokumen atau permohonan resmi diajukan kepada kami. Kalau sudah masuk, tentu segera kami cek," ujar Zulficar kepada CNNIndonesia.com.

Berdasarkan data KKP, per 6 Januari 2020, terdapat 816 kapal di atas 30 GT yang aktif operasionalnya di WPP711, yang juga mencakup Natuna. Sebagian besar alat tangkap yang digunakan berupa bouke ami, jala jatuh berkapal, dan pukat cincin pelagis kecil dengan satu kapal.

"Kalau ada permohonan lagi, kami review dan proses," ujarnya.

[Gambas:Video CNN] (khr/sfr)