USBN Dihapus, Pengamat Khawatir Muncul Soal Cuma Copy Paste

CNN Indonesia | Rabu, 22/01/2020 12:49 WIB
USBN Dihapus, Pengamat Khawatir Muncul Soal Cuma Copy Paste Ilustrasi ujian nasional di sekolah. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penghapusan USBN tahun 2020 melalui pencabutan Prosedur Operasional Standar (POS) pelaksanaan USBN menuai respons positif, namun terselip kekhawatiran. Badan Standarisasi Nasional Pendidikan (BNSP) memastikan tak lagi turut campur dan pembuatan soal ujian di sekolah karena penghapusan USBN tersebut.

Seperti diberitakan sebelumnya, penghapusan USBN tahun 2020 ini berakibat pada pembuatan soal-soal ujian menjadi wewenang pihak sekolah. Selama ini, sebelum USBN dihapus, BNSP memiliki porsi 25 persen dalam pembuatan soal ujian, dan 75 persen lainnya dibuat oleh Dinas Pendidikan Provinsi setempat.

Pengamat Pendidikan Andreas Tambah dari Komnas Pendidikan menyebut yang perlu diwaspadai adalah munculnya soal-soal ujian versi sekolah yang bersifat plagiasi dari bank-bank soal yang telah ada. Menurutnya, potensi ini muncul berkaitan dengan kompetensi seseorang guru yang berbeda-beda.


"Kalau selama ini guru hanya copy paste atau menggunakan bank soal yang ada, itu yang berbahaya," kata Andreas saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (22/1).
Menurutnya, untuk menghindari potensi seperti itu, perlu ada semacam penyegaran kembali untuk melakukan pelatihan kepada guru-guru.

"Agar menghasilkan pembuatan soal-soal yang bagus," kata dia.

Menurutnya, kompetensi guru memang harus jadi perhatian ketika kebijakan penghapusan USBN ini diterbitkan. Menurutnya, kebijakan ini tak akan jadi masalah jika guru sudah punya kemampuan membuat soal yang baik.

Selain kompetensi guru, Andreas juga menyoroti pemerataan pendidikan yang belum optimal. Ia menyinggung jumlah guru pada setiap sekolah yang tak sama.

[Gambas:Video CNN]

"Ada sekolah gurunya satu. Ada sekolah gurunya cuma dua. Bagaimana bisa membuat soal yang beraneka ragam," ujarnya.

Andreas mendorong dinas pendidikan daerah menyinergikan hubungan antarsekolah dalam satu wilayah. Misalnya dengan membentuk gugus atau organisasi guru antarkecamatan.

"Dari situ guru bisa saling membantu dan berbagi ilmu mengenai pembuatan soal yang baik," kata dia.

Terlepas dari kekhawatiran itu, dia mengatakan peghapusan USBN bisa jadi kesempatan yang baik bagi sekolah-sekolah di daerah. Menurutnya apa yang diajarkan sekolah di daerah, umumnya berbeda kompetensinya dengan sekolah di kota-kota besar.

"Mungkin kualitas guru, kualitas buku juga yang dipakai berbeda di kota dan di daerah. Sehingga pada saat diberikan kisi-kisi [USBN] yang diterima guru di daerah, [siswa] belum terima sebelumnya [di kelas]," tuturnya.

Ketika materi pada kisi-kisi USBN dan materi yang sehari-hari diajarkan guru berbeda, kata Andreas, pada akhirnya tiga tahun masa belajar siswa jadi sia-sia.

(fey/ain)