Jejak Peradaban Tanjung Priok dan Polemik Yasonna Laoly

CNN Indonesia | Kamis, 23/01/2020 18:11 WIB
Jejak Peradaban Tanjung Priok dan Polemik Yasonna Laoly Tanjung Priok, Jakarta Utara sejak lama dikenal sebagai wilayah pelabuhan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Tanjung Priok. Nama kecamatan di Jakarta Utara itu menjadi sorotan usai Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly menjadikannya sebagai contoh kawasan kumuh dan mengidentikkannya sebagai daerah kriminalitas.

Saat memberi pengarahan di Lapas Narkotika Kelas IIA Jatinegara, Jakarta, Kamis (16/1) lalu, Yasonna mencontohkan dua anak yang lahir dan besar di dua daerah yang berbeda, yakni Menteng dan Tanjung Priok.

Beda dengan anak Menteng, Yasonna menganggap anak-anak yang lahir di kawasan Tanjung Priok yang terkenal keras dengan tingkat kriminalitas tinggi berpotensi melakukan kejahatan di masa mendatang.


Pernyataan politikus PDI Perjuangan itu kemudian memicu reaksi masyarakat, khususnya warga Tanjung Priok. Mereka merasa tersinggung ucapan Yasonna. Ujungnya puluhan warga Tanjung Priok menggeruduk kantor Kemenkumham di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (22/1).

Pada intinya, mereka menuntut Yasonna meminta maaf secara terbuka di hadapan media. Mereka bahkan mengancam akan menggelar aksi dengan jumlah massa yang lebih besar lagi jika Yasonna tak kunjung meminta maaf dalam tempo 2x24 jam.

Yasonna pun merespons tuntutan itu. Dia meminta maaf atas pernyataannya dan mengaku tak bermaksud menyinggung masyarakat Tanjung Priok.

Ia berdalih bahwa pernyataan itu bertujuan agar publik mengerti bahwa kejahatan adalah produk sosial, sehingga masyarakat juga harus ikut memperbaiki kondisi sosial.

"Akan tetapi sekali lagi ingin saya sampaikan, saya sedikitpun tidak punya maksud untuk itu. Kalaupun itu menunjuk pada tempat, itu tidak dimaksudkan, not intended," kata Yasonna saat jumpa pers di Gedung Ditjen Imigrasi, Rabu (22/1).

Tempat Pembuangan Tahanan Belanda

Menilik dari sisi sejarah, Tanjung Priok merupakan kawasan pelabuhan yang cukup tersohor pada masanya. Tanjung Priok menjadi pelabuhan kedua di Jakarta setelah Sunda Kelapa.

Sejarawan Asep Kambali menuturkan pelabuhan Tanjung Priok mulai dibangun pada tahun 1855. Setelahnya, kapal-kapal bermuatan besar yang berisi komoditas perdagangan mulai pindah dari Sunda Kelapa ke Tanjung Priok.

Saat itu pembenahan di wilayah Tanjung Priok pun mulai dilakukan. Mulai dari pembangunan jalan, jalur kereta api, hingga infrastruktur lain. Wajah Tanjung Priok pun berubah dan statusnya naik kelas.

"Tanjung Priok jadi pelabuhan komersil untuk taraf internasional," kata Asep kepada CNNIndonesia.com, Kamis (23/1).

Jika menengok lebih jauh ke belakang, Tanjung Priok dulunya merupakan sebuah kawasan rawa-rawa dan hutan bakau. Bahkan, menurut Asep, pada masa penjajahan Belanda, kawasan Tanjung Priok sempat dijadikan sebagai tempat mengucilkan tawanan Portugis.

Namun pemerintah kolonial Belanda juga yang akhirnya mengubah Tanjung Priok menjadi kawasan terbuka sehingga kemudian menjadi kota pelabuhan.

"Memang Tanjung Priok kawasan dalam tanda kutip pembuangan dulunya, orang Belanda yang membuka kawasan Tanjung Priok menjadi kawasan terbuka yang tadinya hutan bakau," tuturnya.
Jejak Peradaban Tanjung Priok dan 'Penghinaan' YasonnaUnjuk rasa warga Tanjung Priok di depan kantor Kemenkumham. (CNN Indonesia/ Safir Makki).
Asep lebih jauh menerangkan, banyak negara yang jejak peradabannya selalu diceritakan bermula dari wilayah-wilayah pesisir laut ataupun sungai besar. Alasannya, karena mereka yang tinggal di pesisir biasanya mendapat informasi lebih dulu lantaran kerap berinteraksi dengan orang-orang yang melakukan pelayaran dan berlabuh di sana.

Hal yang sama terjadi di Tanjung Priok. Asep menyebut orang-orang yang tinggal di sana selalu lebih dulu tahu mengenai informasi dunia luar karena berinteraksi dengan mereka yang berlayar dan singgah di Tanjung Priok.

Namun seiring perubahan zaman, apalagi semakin berkembangnya teknologi dan ditemukannya pesawat, perlahan tapi pasti mulai terjadi perubahan dengan kehidupan pelabuhan, termasuk Tanjung Priok.

"Peradaban tidak lagi bermula atau start dari pesisir, tapi dari pedalaman. Yang menjadi ironis tadinya kaum pesisir ini orang-orang hebat, akhirnya menjadi terpinggirkan, termarjinalisasikan," ucap Asep.

Perubahan zaman itu yang juga menyebabkan terjadinya migrasi. Mereka yang memiliki kemampuan secara ekonomi memilih pindah ke wilayah lain.

"Orang-orang kaya, orang-orang yang mampu pindah ke daerah lain, karena makin padat, makin kumuh," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]
Kemisikinan dan Kejahatan

Sementara itu, mengenai Tanjung Priok merupakan daerah miskin dan rawan kriminalitas, sosiolog Imam Prasodjo memberi penjelasannya. Imam mengakui kemiskinan biasanya memang berbanding lurus dengan kejahatan jalanan atau street crime.

Namun, Imam menegaskan bahwa tak semua masyarakat yang tergolong miskin lantas kerap melakukan tindakan kriminal. Menurutnya, masyarakat yang tinggal dalam lingkungan yang memiliki kekerabatan yang kuat menjadi bentuk pengecualian.

"Justru sering kali di wilayah slum (kumuh), wilayah yang nilai-nilainya lemah, kekerabatan satu dengan yang lainnya itu longgar sehingga kemiskinan itu bisa menimbulkan street crime," kata Imam.

Bila membahas Tanjung Priok, Imam melihat ada beberapa faktor yang diduga menjadi pemicu terjadinya aksi kriminal. Pertama, Tanjung Priok merupakan wilayah yang keras sehingga masyarakatnya mesti strugle untuk mendapatkan penghasilan.

"Di situ bukan wilayah pekerjaan yang terstruktur, teratur," ujarnya.

Kedua, suasana lingkungan yang panas dan rata-rata masyarakat di sana merupakan pekerja fisik yang mengandalkan otot. Ketiga, faktor keberagaman masyarakat juga bisa menjadi faktor pemicu.

"Jadi keberagaman yang diikuti dengan persaingan yang ketat dalam pekerjaan yang sifatnya mengandalkan kekuatan otot dengan suasana yang panas, jadi anda bisa bayangkan betapa ketatnya suasana seperti itu," tuturnya.

Berdasarkan data Polda Metro Jaya, selama tahun 2019, Polres Pelabuhan Tanjung Priok diketahui menangani kasus premanisme sebanyak enam kasus. Dari kasus itu, polisi meringkus tujuh tersangka dan dilakukan penahanan.

Di sisi lain, jika menilik pada data BPS tahun 2018, Indeks Kerawanan Keamanan dan Ketertiban (IRKK) tertinggi di DKI Jakarta ada di Kelurahan Gondangdia, Jakarta Pusat. Sedangkan, IRKK terendah ada di Kelurahan Roa Malaka, Jakarta Barat.

IRKK itu diketahui disusun berdasarkan tiga hal, yakni tindak pidana, tawuran, serta ketidakberadaan petugas keamanan seperti satpam atau hansip.

Anggota DPR RI yang tinggal di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Ahmad Sahroni, juga telah menampik pernyataan Yasonna. Meski demikian, ia juga mengakui bahwa Tanjung Priok dahulu lekat dengan julukan daerah kumuh dengan tingkat premanisme tinggi.

Namun, dia mengingatkan Yasonna bahwa Tanjung Priok sudah berkembang dengan tingkat keamanan lebih baik dibandingkan kawasan Menteng, Jakarta Pusat berdasarkan data BPS.

"Pada masa lalu Tanjung Priok memang lekat dengan julukan daerah slum dengan premanisme tinggi. Tetapi jangan lupa, sebuah daerah dapat berkembang menjadi lebih baik. Tanjung Priok misalnya, data BPS bahkan menunjukkan tingkat keamanan lebih baik dibandingkan dengan Menteng saat ini," tuturnya, Rabu (22/1). (dis/osc)