Hal itu disampaikan Said di hadapan Wakil Presiden RI, Ma'ruf Amin, dalam acara 'Koin Muktamar NU Mandiri, Indonesia Bermartabat' di Gedung PBNU, Jakarta, Jum'at (31/1) malam.
Lihat juga:Erick Thohir Copot Dua Direksi Asabri |
"Kasus gagal bayar beberapa perusahaan asuransi seperti Jiwasraya, dan indikasinya Bumi Putera, begitu pula Asabri, jangan-jangan Taspen juga, membuka pengetahuan kita bahwa betapa buruknya pengelolaan industri asuransi di Indonesia," kata Said.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kenyataan yang sering dijumpai, akses perbankan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah tidak mudah, berbeda dengan pelaku usaha besar atau konglomerat," ucapnya.
Kendati demikian, Said mengatakan NU tidak anti konglomerat. Ia berujar yang diharapkan NU adalah konglomerasi sesuai dengan hadist yang merangkul ekonomi mikro, kecil dan menengah (UMKM).
"Jika kelas menengah terangkat, kelas kecil dan mikro pun harus demikian," papar Said.
Dalam sambutannya, Said pun menyinggung mengenai kenaikan iuran BPJS kelas III, wacana pembatasan subsidi gas elpiji tiga kilogram dan rencana impor garam besar-besaran. Ia menyatakan pemerintah harus mempertimbangkan kegelisahan masyarakat atas sejumlah kajian kebijakan tersebut.
Selain itu juga, Said mengungkapkan pemerintah masih harus mengupayakan kebijakan yang bersifat afirmatif dalam menghadapi era baru persaingan ekonomi global.
"Namun lebih dari itu, rancang bangun pengelolaan sumber alam dan anggaran negara harus berpihak kepada kalangan mustadh'afin, budget pro poor," tandasnya. (ryn/ayp)