Anak-anak sudah menempati kursinya masing-masing. Sebagian kursi dan meja yang mereka pakai sudah reyot. Ada kursi yang kakinya tanggal dan meja yang keropos.
Arosel guru sekolah marjinal, lalu mengulang mengisi kegiatan belajar mengajar dengan membahas ulang nilai-nilai Pancasila. Dibahas pula lagu kebangsaan dan hapalan surat pendek Alquran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Murid-murid pulang mengunakan rakit usai belajar di SDN 10/Sekolah Marjinal yang terletak di Dusun Sialang Harapan Desa Batu Sasak, Kabupaten Kampar. (CNN Indonesia/Safir Makki) |
Sebagian besar siswa mengacungkan jari. Masing-masing anak berlomba dapat perhatian sang guru.
Arosel lalu meminta siswa menyebutkan cita-citanya masing-masing. Berturut-turut, Arosel menunjuk beberapa siswa.
Keshia ingin menjadi guru seperti Arosel. Yanda bercita-cita menjadi dokter. Revandi ingin menjadi polisi dan Ipul bertekad menjadi presiden.
Akan tetapi, Ipul tak tahu siapa Presiden Indonesia yang saat ini menjabat. Matanya berputar ketika ditanya oleh Arosel.
Yanda, yang duduk di sebelah Ipul lantas membisikkan sebuah nama.
"Joko Widodo," ucap Ipul usai dibisiki. Dia lalu tersenyum.
Meski sekolahnya memiliki banyak keterbatasan, siswa sekolah marginal tetap memiliki cita-cita (CNN Indonesia/Safir Makki) |
Mungkin wajar jika ada sebagian dari mereka yang belum pernah mendengar nama Joko Widodo dan Nadiem Makarim. Terlebih, listrik di tempat daerah mereka pun terbatas. Hanya sampai sore hari. Tentu mengganggu arus informasi yang mereka peroleh.
"Sekolah di sini belum bagus, listriknya juga enggak ada, tower pula enggak ada. Susah lah menghubungi orang di sini, untuk keperluan kami," ucap Arosel guru sekolah marginal.
Simak perjuangan siswa-siswa sekolah dasar SDN 010 di Dusun Sialang Harapan pada video di bawah ini:
[Gambas:Video CNN]
Selaku sekolah induk, maka kepala sekolah SDN 010 Dusun Batu Sasak yang bertanggung jawab langsung atas kondisi di sekolah marjinal. Akan tetapi, sekolah induk juga masih memiliki sejumlah masalah.
Sawirman, kepala sekolah SDN 010 Dusun Batu Sasak, mengeluhkan betapa susahnya mendapatkan sinyal telepon dan akses internet. Karenanya, urusan administrasi menjadi sulit dikerjakan.
Bangunan SD Negeri 10 yang sudah direnovasi di Dusun Sialang Harapan, Desa Batu Sasak. (CNN Indonesia/Safir Makki) |
Sawirman mengaku tak mampu mengupayakan banyak hal. Jangankan perbaikan bangunan Sekolah Marginal, untuk sekolah induknya saja ia masih memelas perhatian pemerintah.
"Waktu itu kami mau ambil data, kami sampai ke atas bukit di seberang Sialang Harapan. Untuk mengambil data pelatihan dari kawan," tutur Sawirman.
Bukan saja ketiadaan alokasi anggaran, sekolah induk juga tak punya wewenang. Rehabilitasi merupakan ranah Dinas Pendidikan Provinsi Riau.
"Kami hanya bisa membantu buku pelajaran, rapor, soal-soal ujian sampai pada ATK (Alat Tulis Kantor) lainnya," terang dia.
"Ya kami berharap sekolah marginal itu dilanjutkan pembangunannya, dengan baiknya pembangunan di sana kan guru-guru juga semakin timbul minatnya untuk mengajar akan-anaknya kan," tambahnya.
Murid-murid pulang mengunakan rakit usai belajar di SDN 10/Sekolah Marjinal yang terletak di Dusun Sialang Harapan Desa Batu Sasak, Kabupaten Kampar. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Meski sekolahnya memiliki banyak keterbatasan, siswa sekolah marginal tetap memiliki cita-cita (CNN Indonesia/Safir Makki)
Bangunan SD Negeri 10 yang sudah direnovasi di Dusun Sialang Harapan, Desa Batu Sasak. (CNN Indonesia/Safir Makki)