ANALISIS

Beda Sikap Risma dan Anies Hadapi Cibiran 'Kodok' dan 'Joker'

CNN Indonesia | Kamis, 06/02/2020 18:49 WIB
Beda Sikap Risma dan Anies Hadapi Cibiran 'Kodok' dan 'Joker' Sikap Anies Baswedan dan Tri Rismaharini dalam merespons kritik publik dinilai sebagai cerminan dari daya ukur ketahanan politik seorang pejabat. (ANTARA FOTO/CNN Indonesia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kritikan hingga caci maki kerap diterima pejabat publik akibat dari kebijakan yang diambil hingga cara kepemimpinannya.

Teranyar, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mendapat hinaan yang menyebut dirinya sebagai kodok. Hinaan itu direspons Risma dengan melaporkannya ke Polrestabes Surabaya.


Laporan itu ditindaklanjuti oleh kepolisian sampai akhirnya pelaku berinisial ZKR ditangkap. Ibu rumah tangga asal Bogor itu pun ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan.


Hinaan di media sosial juga kerap diterima oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Salah satunya terkait foto meme joker Anies yang diunggah oleh Ade Armando lewat akun Facebooknya.

Meme joker Anies yang diunggah oleh Ade itu kemudian dilaporkan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Fahira Idris ke Polda Metro Jaya. Namun, sampai saat ini polisi belum menetapkan tersangka terkait laporan itu.

Pengamat politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Adi Prayitno mengatakan dua kasus itu menunjukkan bagaimana perbedaan sikap Risma dan Anies dalam menghadapi kritikan masyarakat.

Anies, menurut Adi, cenderung cuek lantaran tidak pernah menanggapi kritikan, hinaan, ataupun caci maki dari masyarakat. Adi menilai Anies menerima kritikan itu sebagai bagian dari konsekuensi dirinya selaku pejabat publik.

"Coba cek deh semua kritik terhadap Anies (itu) dicuekin, cenderung tidak menanggapi langsung," kata Adi kepada CNNIndonesia.com, Kamis (6/2).
Beda Sikap Anies dan Risma Hadapi Cibiran Joker dan KodokTersangka Penghina Risma menangis minta maaf. (CNN Indonesia/Farid)


Lain halnya dengan Risma. Adi menyebut selama ini Risma memang lebih kerap menerima pujian dari publik terkait kinerjanya sebagai wali kota dibanding hinaan atau kritikan dari masyarakat.

Namun, langkah Risma melaporkan penghinanya ke kepolisian justru menjadi bumerang. Adi menganggap respek publik terhadap Risma justru bakal menurun.

Tak hanya itu, menurut Adi, langkah pelaporan yang dibuat Risma itu juga menunjukkan bahwa dia tidak bisa menerima kritikan dari masyarakat.

"Intinya ini soal bagaimana merespons kritikan, kalau Risma dengan kasus (laporan) ini tentu kupingnya sudah mulai tipis gitu," ujarnya.

Adi menuturkan kritikan dari masyarakat terhadap seorang pejabat publik bisa menjadi daya ukur bagaimana ketahanan politik seorang pejabat.

Adi beranggapan Risma cenderung lebih rapuh, sementara Anies lebih kuat. Sebab, meski kerap menerima kritik hingga hinaan Anies, tak pernah sekalipun melaporkan penghinanya ke kepolisian.


Kalaupun ada laporan, biasanya dibuat oleh barisan pendukung Anies. Bukan oleh Anies sendiri. Salah satunya oleh anggota DPD RI asal Jakarta Fahira Idris.

"Satu soal daya tahan menghadapi kritik, Risma ini secara perlahan kupingnya mulai menipis sementara Anies biasa-biasa saja. Bahkan Anies lebih parah di-bully," ujarnya.

Adi menyampaikan langkah yang dipilih Risma dan Anies dalam menghadapi para pengkritiknya tentu akan berefek ke depannya. Risma, kata Adi, bisa saja diberi label sebagai seorang pemimpin yang potensial melaporkan para pengkritiknya.

Sementara Anies, lanjutnya, bisa saja dilabeli sebagai seorang pemimpin yang tahan atau kuat terhadap kritikan dari masyarakat.

Direktur Eksekutif Voxpol Centre Research and Consulting Pangi Syarwi Chaniago pun menilai Risma terlalu reaktif dalam merespons kritikan atau hinaan terhadap dirinya. Hal itu terlihat dengan laporan polisi yang ia buat terhadap penghinanya.

Sementara Anies, lagi-lagi dianggap memiliki daya tahan yang kuat atas berbagai kritikan terhadap dirinya. Pangi menduga Anies dibesarkan dengan daya tahan demokrasi yang kuat sehingga bisa menerima berbagai kritik maupun hinaan.

"Saat ada kritik, ada bully [Anies] tahan, sementara Risma tidak teruji, bisa saja dia [Risma] pemimpin yang belum siap dengan era-era seperti itu, imunitas dia [Risma] menghadapi kritik belum siap," tuturnya.

[Gambas:Video CNN]


Menurut Pangi, langkah Risma melaporkan penghinanya itu justru bakal berdampak pada anljoknya elektabilitas."Risma anjlok elektabilitasnya menurut saya. Risma jadi hancur namanya," ucapnya.

Sedangkan sikap Anies yang terkesan acuh, kata Pangi, justru menjadi keuntungan tersendiri bagi dirinya. "Itu poin bagi Anies, lebih siap hadapi kritik, bully, cacian, makian. Ini keuntungan pak Anies," ujar Pangi. (dis/gil)