Virus Demam Babi Afrika: Peternak Menjerit, Warga Sumut Demo

CNN Indonesia | Selasa, 11/02/2020 13:59 WIB
Virus yang membuat kematian babi secara massal membuat peternak di Bali dan Sumatera Utara menjerit sehingga muncul aksi save babi. Massa yang mengatasnamakan gerakan #Save Babi melakukan aksi di depan DPRD Sumatera Utara, Medan, 10 Februari 2020. (ANTARA FOTO/Septianda Perdana)
Denpasar, CNN Indonesia -- Virus demam babi afrika atau african swine fever yang membuat kematian hewan ternak babi secara massal membuat peternak di Bali dan Sumatera Utara menjerit.

Di Sumatera Utara, kemarin para peternak dan pemerhati menggelar aksi #savebabi di depan Gedung DPRD, Medan. Sementara itu di Bali, gabungan peternak menuntut kebijakan khusus dari pemerintah daerah karena harga yang anjlok.

Ketua Gabungan Usaha Peternakan Babi Indonesia (GUPBI) Bali, I Ketut Hari Suyasa mengusulkan, pemerintah di kabupaten dan kota mengambil alih penjualan produksi atau dengan kata lain memborong babi.


"Kami meminta dan berupaya agar pemerintah mengambil alih penjualan produksi. Terutama di wilayah terdampak di empat kabupaten yang sampai hari ini (harganya) belum beranjak ke arah yang lebih baik," ujar Ketut Hari kepada CNNIndonesia.com, Selasa (11/2).

Empat kabupaten yang dimaksud adalah Badung, Tabanan, Gianyar, dan Denpasar. Data terkini, kematian massal Babi juga terjadi di kawasan Buleleng.

Sebanyak 21ekor babi di Dusun Dauh Munduk dan Dusun Punduh Lo, Desa Bungkulan, Kecamatan Sawan dilaporkan mati hingga Selasa 11 Januari.  Pemilik babi, Nyoman Aria Suta mengatakan, kematian berawal dari satu ekor babi yang kemudian menular ke babi lainnya. Meski sempat disuntik, 21 babinya tetap tak tertolong.

"Setelah induk babi itu mati, terus merembet ke babi-babi yang lain, sampai semua babi saya habis," kata Aria 

Jika data kematian itu dijumlahkan, kasus kematian babi di Bali telah mencapai seribu lebih sejak sebulan terakhir diduga wabah African Swine Fever (ASF) atau Demam Babi Afrika.

Save Babi, Peternak Bali Menjerit Harga Anjlok Akibat VirusPenyemprotan desinfektan di peternakan babi. (AFP/ALBERT IVAN DAMANIK)
Borong Babi oleh Pemda Jelang Galungan

Harga Babi di Bali khususnya di empat kabupaten terdampak virus itu diketahui belum beranjak naik setelah kematian babi secara massal. Kisarannya masih di bawah harga pokok industri Rp25.000 per kilogram.

Hari Suyasa menilai gagasan kebijakan pemerintah daerah, atau ASN dan pegawai kontrak beragama hindu bekerja sama membeli babi itu bukanlah pemaksaan. Ia menilai itu adalah strategi yang langsung mengenai aspek ideologi dan ekonomi. Apalagi, umat Hindu akan menyambut hari raya Galungan sebagai hari raya besar keagamaan di mana kebutuhan daging babi akan banyak.

"Konsep yang saya usulkan ke pemerintah kabupaten dan kota di Bali, melakukan mepatung bersama untuk ASN dan pegawai kontrak. Pemerintah membeli babi dengan nilai jual di atas pokok produksi sehingga harga naik," ujar Hari Suyasa.

"Pemerintah bisa mewajibkan ASN atau pegawai kontrak yang beragama Hindu mepatung bersama. Uangnya dari gaji masing-masing. Intinya toh juga mereka akan mepatung saat hari raya. Kenapa tidak sekarang bantu peternak yang sedang kesusahan," sambungnya.

Bukan hanya ke pemerintah daerah, GUPBI pun meminta bantuan ke 1,493 desa adat di Bali. Desa Adat adalah lembaga yang mempunyai akses yang lebih cepat terkait penanggulangan dan pencegahan.

"Kalau desa adat membantu kami, gerakannya pasti cepat," ujar Hari Suyasa.

Hari Suyasa menerangkan hewan babi bagi masyarakat Bali bukan saja produk ekonomi tapi juga produk budaya yang sangat terkait dengan desa adat. Oleh karena itu,  ia menilai, tak berlebihan ketika desa adat melakukan tindakan strategis terkait apa yang terjadi di Bali saat ini.

"Contohnya gayah (sarana upacara) yang sebagai kearifan lokal menggunakan kepala babi utuh. Kemudian ada lagi di wilayah Kabupaten Karangasem yaitu usaba guling (nama upacara) yang menghaturkan beribu babi guling. Semua itu terkait dengan adat dan budaya yang wadahnya adalah desa adat," kata Hari.

Hari mengatakan menanggulangi dampak virus babi yang mewabah di Bali saat ini tak bisa ditangani dengan cara seremonial saja. Hari menjelaskan, mengambil langkah cepat dan strategis menjadi penting karena peternak harus berpacu dengan waktu dengan virus yang membunuh.

"Kadang yang kami lakukan tidak seiring sejalan dengan apa yang dipikirkan orang lain. Ini yang saya kira agak susah melangkah," jelasnya. 

Selain itu, Hari Suyasa mendukung pemerintah untuk menjaga di luar kabupaten terdampak terkena juga wabah demam babi Afrika.

"Memang susah mengatur. Tapi harus diawasi, jangan sampai daging di wilayah terkena virus dijual ke luar daerah yang tidak ada virus. Karena di wilayah terdampak harga daging pasti murah," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]
Aksi Save Babi di Medan


Sehari sebelumnya, pada Senin (10/2), ribuan orang menggelar unjuk rasa di depan kantor DPRD Sumut di Kota Medan. Mereka tergabung dalam gerakan aksi damai tolak pemusnahan babi di Sumut terkait wabah demam babi Afrika (ASF).

Aksi massa yang bertajuk Gerakan #Savebabi merupakan bentuk penolakan terkait isu pemusnahan babi di Sumatera Utara akibat wabah African Swine Fever (ASF) yang terjadi di provinsi tersebut.

"Save babi, save babi," teriak salah satu pengunjuk rasa, Boasa Simanjuntak, saat berorasi seperti dikutip dari Antara.

Dari atas mobil komando, ia menyebutkan berulang kali bahwa babi merupakan sumber perekonomian mereka.

"Kami makan dari babi. Anak kami kuliah dari babi. Save babi, save babi," ujarnya.

Dalam aksi save babi itu massa membawa sejumlah atribut seperti ulos dan spanduk penolakan rencana pemusahan hewan ternak berkaki empat itu di Sumut.

(put, Antara/kid)