Ekonomi Bergolak karena Corona, SBY Minta Jokowi Tak Lamban

CNN Indonesia | Rabu, 18/03/2020 08:17 WIB
Ekonomi Bergolak karena Corona, SBY Minta Jokowi Tak Lamban SBY memintah pemerintahan jokowo mengeluarkan kebijakan responsif terkait corona. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyatakan penyebaran virus corona (Covid-19) telah memberikan gejolak ekonomi yang serius. Menurutnya, diperlukan policy response serta tindakan pemerintah yang sigap dan tepat.

SBY menyatakan gejolak perekonomian global akibat pandemi corona juga sudah terlihat. Ia menyebut pandemi virus corona sudah membuat harga-harga saham, minyak, dan nilai tukar mata uang rontok.

Selain itu, kata SBY, virus corona ini juga menggoyahkan pilar dan fundamental perekonomian banyak negara, termasuk Indonesia. Ia meminta pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tak terlambat merespons penyebaran virus yang sudah menjangkit 172 orang di Indonesia.


"Melalui artikel ini saya hanya ingin mengingatkan agar Indonesia tidak terlambat menjalankan "policy response" dan aksi-aksi nyata yang diperlukan. Jangan "too little and too late"," kata SBY Dalam tulisan di laman Facebook resminya, dikutip CNNIndonesia.com, Rabu (18/3).
Mantan ketua umum Partai Demokrat mengingat kembali krisis ekonomi yang terjadi pada 1998 dan 2008. Menurutnya, pada 1998 ekonomi Indonesia tak selamat, sementara pada 2008 berhasil selamat dari krisis ekonomi global.

Menurut SBY, banyak pakar ekonomi, pemimpin dunia usaha, dan elemen pemerintah di sejumlah negara khawatir pandemi Covid-19 bisa membuat dunia jatuh ke dalam 'resesi yang dalam dan panjang'.

"Bahkan ada yang mencemaskan kalau krisis ini jauh lebih berat dibandingkan krisis tahun 1998 dan tahun 2008 dulu," ujarnya.

Lebih lanjut, SBY menyatakan Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve) telah menjalankan kebijakan moneter dan tindakan 'berskala besar', antara lain mengalirkan dana US$700 miliar dan sejumlah tindakan moneter (bagian dari Quantative Easing).
[Gambas:Video CNN]
Pensiunan jenderal TNI itu menyebut untuk meredakan badai ekonomi diperlukan penanganan bersama yang serius, termasuk kebijakan dan tindakan secara nasional di masing-masing negara. Ia meminta pemerintah menyelamatkan ekonomi di tengah badai corona.

"Kalau ekonomi kita kuat, semua fundamentalnya kokoh dan tak memiliki risiko apapun, kita boleh agak tenang," katanya.

Berdasarkan data pemerintah, pasien positif Covid-19 sejak diungkapkan pada awal Maret ini kini mencapai 172 orang per Selasa (17/3). Dari data itu, sembilan pasien dinyatakan sembuh dan 5 meninggal dunia. (fra)