Menurut Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Daeng M. Faqih, hal ini terjadi lantaran ketersediaan APD tidak dapat mengimbangi lonjakan jumlah pasien positif Covid-19 yang terus meningkat.
"Kawan-kawan di lapangan sekarang banyak melakukan modifikasi-modifikasi dari bahan-bahan yang menurut kawan-kawan masih bisa dipakai, seperti kantong plastik sampah dimodifikasi menjadi alat pelindung diri," kata Faqih kepada CNN Indonesia Tv, Sabtu (28/3).
Selain kantong sampah, kata Faqih, para tenaga medis juga mengakali pelindung diri menggunakan jas hujan dan baju bekas di kamar operasi. Sebab APD hanya bisa dipakai sekali dan harus langsung dihancurkan guna mencegah penularan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
IDI hanya mengimbau tenaga medis mematuhi prosedur operasional standar penanganan corona. Salah satunya menggunakan APD yang lengkap.
"Kalau nekat merawat pasien dengan APD tidak memadai, maka kami khawatir tenaga kesehatan berisiko langsung tertular. Kalau langsung tertular, maka yang bersangkutan tidak bisa lagi merawat," tuturnya.
Kelangkaan APD dalam penanganan corona menyita perhatian publik. Pemerintah telah mengimpor 105 ribu APD dan disebarkan ke seluruh Indonesia. Namun jumlah itu disebut masih kurang karena jumlah pasien kian bertambah.
[Gambas:Video CNN]
(dhf/eks)